LAMPUNG TIMUR — Menteri Kehutanan (Menhut) RI Raja Juli Antoni bersama delegasi Kedutaaan Besar (Kedubes) Norwegia meninjau langsung progres pembangunan infrastruktur mitigasi dan penanganan interaksi negatif gajah Sumatra di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, Minggu (20/9/2026).
Turut hadir mendampingi kunjungan kerja tersebut, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal serta Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdakab Lampung Timur Ahmad Zainuddin.
Di bawah komando operasional Komite Gabungan yang dipimpin langsung oleh Brigjen TNI Sriyanto, proyek strategis ini menerapkan standar teknis konstruksi yang presisi guna memastikan efektivitas pembatas fisik kawasan seluas sekitar 125.000 hektare tersebut.
"Konstruksi pembatas dirancang memiliki tinggi minimal 2 meter di atas permukaan air saat kondisi pasang atau banjir, memiliki kemiringan 60 derajat agar gajah tidak dapat memanjat, serta dibangun menggunakan beton bertulang yang mampu menahan beban gajah jantan hingga 5 ton," papar Brigjen TNI Sriyanto di hadapan Menhut RI dan delegasi Kedubes Norwegia.
Brigjen TNI Sriyanto menjelaskan, struktur fondasi diperkuat dengan pasangan batu (revetment/riprap) untuk menahan erosi akibat kecepatan arus sungai hingga 2 meter per detik pada musim banjir, yang didukung jaringan jalan tanggul serta kondisi tanah yang kokoh.
Dalam eksekusi lapangannya, Komite Gabungan telah merampungkan serangkaian pembangunan fisik berskala besar, mencakup:
Pagar pembatas pipa baja sepanjang 19.600 meter;
Kanal dan tanggul berdinding beton pracetak sepanjang 23.335 meter;
Kanal dan tanggul biasa sepanjang 76.526 meter;
Pagar H-Beam berlistrik sepanjang 18.420 meter dan non-listrik sepanjang 22.930 meter;
Pagar sekat gajah jantan berlistrik (19.165 meter) dan pipa baja gajah jantan (22.159 meter);
Sekat pipa baja kawasan gajah betina sepanjang 8.755 meter;
Pemasangan matras beton sepanjang 53.800 meter, perkerasan jalan tanggul sepanjang 21.553 meter, pembangunan 7 unit jembatan ARMCO, serta pembukaan jalan akses sepanjang 38.982 meter.
Untuk mengoptimalkan pengawasan kawasan, dibangun pula 15 unit pos pantau beton, 10 unit pos pantau modular dua lantai, 4 unit pintu gerbang gading, 4 unit viewing deck, menara pandang setinggi 43 meter, skywalk (797 m x 5 m x 7 m), serta canopy trail sepanjang 1.447 meter. Pembangunan ini turut diperkuat dengan pengadaan 15 unit drone, 4 unit kapal patroli, 30 unit sepeda motor trail 150cc, dan kendaraan operasional 4x4.
Proyek masif ini melibatkan mobilisasi total 3.091 personel gabungan dari Kodam XXI/RI, Kementerian Kehutanan, Pemprov Lampung, Polda Lampung, Balai TNWK, akademisi (UNILA, ITERA, POLINELA), tenaga ahli, serta 2.881 personel dari elemen masyarakat dan instansi pendukung.
Akar Historis Konflik dan Peningkatan Kesejahteraan Satwa
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc., menjelaskan bahwa pembangunan sistem mitigasi fisik ini berakar dari dinamika sejarah program transmigrasi era Orde Baru dari Pulau Jawa ke Lampung yang mengambil alih habitat asli gajah.
"Tujuan utama pengelolaan ini adalah untuk meningkatkan kualitas hidup gajah serta meningkatkan kemakmuran masyarakat yang tinggal di sekitar Taman Nasional Way Kambas," ungkap Prof. Satyawan mewakili Menhut RI Raja Juli Antoni.
Ia menerangkan bahwa gajah memiliki memori spasial yang kuat sehingga kerap berusaha kembali ke area jelajah (home range) lamanya yang kini telah menjadi pemukiman dan lahan pertanian. Kebijakan pemerintah berfokus membatasi pergerakan populasi gajah (sekitar 150–170 ekor, termasuk kurang lebih 60 ekor gajah jinak di PKG dan ERU) agar tidak keluar dari kawasan.
Di saat yang sama, kesejahteraan satwa di dalam kawasan ditingkatkan melalui pelepasan rantai secara bertahap, penyediaan air bersih, serta pakan berstandar tinggi. Untuk menunjang kebutuhan habitat di dalam kawasan, dibangun 46 unit shelter gajah jantan, 8 shelter gajah betina, 58 unit bak air minum, penanaman 20.000 bibit serai merah, serta penangkaran 900 koloni lebah.
Ke depan, Komite Gabungan menyusun rencana tindak lanjut berupa pengembangan program Dapur Gajah, pembangunan PKG Command Center, konversi rumah peneliti menjadi klinik gajah, integrasi seksi gajah ERU, serta penambahan jembatan Armco MPP di Desa Tambah Dadi dan jembatan baja 25 meter di Desa Kali Batin.
Post a Comment