Delapan Titik Pembakaran Sampah di Sekitar Labuhan Jukung Dikhawatirkan Picu Kebakaran

 

Pesisir Barat — Aktivitas pembakaran sampah di sejumlah titik di sekitar Lapangan Merdeka dan kawasan wisata Labuhan Jukung, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, dikeluhkan warga. Kondisi tersebut dinilai tidak hanya mengganggu kenyamanan masyarakat dan wisatawan, tetapi juga berpotensi memicu kebakaran serta menimbulkan pencemaran udara.

Pantauan di sejumlah lokasi pada Sabtu (5/9/2026), sedikitnya terdapat sekitar delapan titik yang digunakan untuk membakar sampah. Lokasi tersebut di antaranya berada di depan SMP Negeri 2 Pesisir Barat, depan kawasan wisata Labuhan Jukung, sekitar tikungan Bakso, hingga beberapa titik di dalam kawasan wisata Labuhan Jukung.

Aktivitas pembakaran juga terlihat di sekitar podium Labuhan Jukung, baik sebelum maupun setelah area podium. Kondisi ini menjadi perhatian karena sejumlah lokasi pembakaran berada cukup dekat dengan lapangan, pepohonan, fasilitas umum, dan area wisata yang ramai dikunjungi masyarakat.

Warga khawatir api dari pembakaran sampah dapat merembet apabila tidak diawasi, terlebih ketika kondisi lingkungan kering dan terdapat material mudah terbakar di sekitar lokasi.

Ketua Harian Krui Kecahko Pesisir Barat, Gunawan SP, mengaku prihatin sekaligus keberatan dengan masih ditemukannya aktivitas pembakaran sampah, baik di luar maupun di dalam kawasan wisata.

“Saya merasa prihatin dan keberatan dengan sampah yang dibakar, baik di luar maupun di dalam wisata. Kami khawatir api merambat dan menyebabkan kebakaran, terlebih lokasinya berada di sekitar lapangan dan di dalam Labju,” kata Gunawan.

Menurut Gunawan, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan asap yang mengganggu kualitas udara. Pembakaran sampah secara terbuka juga dapat menghasilkan polutan dan partikel halus yang terhirup oleh masyarakat di sekitar lokasi.

Selain berdampak terhadap kualitas udara, pembakaran sampah secara sembarangan juga berpotensi merusak lingkungan. Sampah yang dibakar, terutama apabila bercampur dengan plastik atau material sintetis, dapat menghasilkan asap dan zat pencemar yang berbahaya bagi lingkungan.

Dampaknya juga dapat terjadi pada vegetasi di sekitar lokasi. Panas api yang terus-menerus berada di sekitar pangkal pohon dapat merusak bagian bawah batang, mengganggu kondisi tanah dan akar, serta meningkatkan risiko pohon mengalami kerusakan hingga kematian.

Gunawan menyebut terdapat sejumlah pohon tua di kawasan Labuhan Jukung yang telah berusia puluhan tahun dan kini dalam kondisi mati. Ia menduga kebiasaan membakar sampah di sekitar atau di bawah pohon menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.

«“Ada beberapa pohon tua yang mati. Sampah dibakar di bawahnya, sehingga lama-kelamaan pohonnya ikut terdampak dan mati,” ujarnya.»

Ia menilai pengelolaan sampah seharusnya tidak dilakukan dengan cara membakar secara sembarangan. Selain menimbulkan asap dan polusi udara, aktivitas tersebut berpotensi menyebabkan kerusakan lingkungan apabila dilakukan terus-menerus.

Terlebih, kawasan Labuhan Jukung merupakan salah satu kawasan wisata yang menjadi ruang publik dan memiliki keberadaan pepohonan serta fasilitas yang harus dijaga. Pembakaran sampah di kawasan tersebut dinilai perlu mendapat perhatian serius agar tidak menimbulkan persoalan baru.

Gunawan berharap pengelola kawasan wisata maupun pihak terkait segera melakukan penanganan terhadap persoalan sampah, termasuk mengawasi titik-titik yang selama ini digunakan sebagai lokasi pembakaran.

Ia juga meminta agar pembakaran sampah tidak dilakukan di dekat fasilitas umum, lapangan, pepohonan, maupun kawasan wisata karena selain mengganggu masyarakat, aktivitas tersebut dapat meningkatkan risiko kebakaran dan pencemaran lingkungan.

“Jangan sampai persoalan sampah justru menimbulkan persoalan baru, seperti polusi udara, kerusakan lingkungan hingga kebakaran,” pungkasnya. (*) 

Post a Comment

Previous Post Next Post