LAMPUNG SELATAN — Rencana pembentukan jaringan rel kereta api raksasa Trans Sumatra Railway yang membentang dari Bakauheni, Lampung, hingga Banda Aceh kembali diakselerasi. Menyusul instruksi Presiden Prabowo Subianto kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk mempercepat integrasi rel lintas Sumatera, proyek bernilai investasi sekitar Rp350 triliun ini kini mulai memasuki tahap penggodokan intensif.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Lampung, Bambang Sumbogo, mengonfirmasi bahwa pemerintah tengah mengaktifkan kembali skema perencanaan awal melalui serangkaian Focus Group Discussion (FGD) guna mematangkan peta jalan jaringan rel di Pulau Sumatera.
"Alhamdulillah, Pak Presiden sudah mencanangkan kembali program Trans Sumatra Railways. Jadi program ini mulai digiatkan lagi. Tahun depan kemungkinan sudah mulai penyusunan Feasibility Study (FS)," kata Bambang Sumbogo saat ditemui di kawasan Kota Baru, Lampung Selatan, Jumat (31/7/2026).
Panjang Jalur 1.400 Km: Hubungkan Lintas Provinsi dan Menyambung Jalur Eksis
Berdasarkan estimasi awal, koridor utama Trans Sumatra Railway diperkirakan membentang sepanjang 1.400 kilometer. Bambang menegaskan bahwa proyek infrastruktur ini tidak sepenuhnya dibangun dari titik nol.
Pemerintah akan memanfaatkan jaringan rel yang sudah aktif di beberapa wilayah, seperti Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Aceh, lalu menyambungkan rel yang masih terputus (missing link).
Poin Kunci Megaproyek Trans Sumatra Railway:
Estimasi Anggaran: Rp350 triliun (masih berupa proyeksi awal menanti penuntasan FS dan DED).
Dual Function: Mengombinasikan angkutan logistik komoditas perkebunan/tambang dengan moda transportasi penumpang.
Konektivitas Makro: Diproyeksikan terintegrasi dengan Trans Java Railway hingga berpotensi terhubung ke jaringan Trans Asia Railway (Malaysia & Singapura).
Dorong Efisiensi Logistik dan Pariwisata Lintas Negara
Pulau Sumatera yang kaya akan komoditas hasil bumi dan perkebunan dinilai sangat membutuhkan kehadiran angkutan rel yang efisien dan massal. Moda kereta api dipercaya dapat menekan biaya logistik (logistics cost) secara signifikan dibandingkan moda transportasi darat berbasis jalan raya.
Selain fokus pada angkutan barang, proyek ini diharapkan memberi dampak ganda (multiplier effect) pada sektor pariwisata.
"Di Sumatera ini dominan untuk logistik, tetapi angkutan penumpang tetap berjalan simultan. Harapannya, kalau nanti moda ini tersambung dari Jawa ke Sumatera hingga tembus ke jaringan kawasan Asia Tenggara, nilainya akan sangat luar biasa bagi pertumbuhan ekonomi," pungkas Bambang.
Post a Comment