PRINGSEWU — Momentum peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah diadopsi oleh Pemerintah Kabupaten Pringsewu sebagai sasis penguatan spiritual sekaligus ketahanan budaya lokal. Bertempat di Lapangan Pekon Patoman, Kecamatan Pagelaran, Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas secara resmi membuka perhelatan akbar bertajuk Gebyar Suro Pentas Seni dan Budaya Jaranan DOR. Agenda kultural yang memobilisasi sinergi antara pejabat tinggi jajaran pemkab, otoritas kecamatan, aparatur pekon, hingga para tokoh adat dan agama ini diproyeksikan untuk mengikis dampak disrupsi modernisasi terhadap eksistensi kesenian rakyat.
Langkah taktis Bupati Riyanto dalam menghadiri dan membuka langsung pentas Jaranan DOR ini merupakan bentuk keberpihakan politik anggaran dan kebijakan daerah terhadap para pelaku seni tradisional. Otoritas eksekutif mengapresiasi loyalitas para seniman lokal yang secara swadaya konsisten merawat denyut nadi kesenian sirkulasi komunal tersebut. Jaranan DOR dinilai bukan sekadar instrumen hiburan rakyat atau tarian estetis semata, melainkan sebuah artefak sejarah berjalan yang menyimpan sasis nilai luhur, filosofi perjuangan, dan identitas kultural yang wajib ditransmisikan kepada generasi z dan alfa.
Dalam kerangka pembangunan daerah yang berkelanjutan, Pemkab Pringsewu menekankan pentingnya konsep modernisasi tanpa sasis de-kulturalisasi. Kemajuan sirkulasi ekonomi dan pembangunan infrastruktur fisik di Pringsewu diwajibkan berjalan selaras dengan pemeliharaan akar tradisi. Transformasi Pekon Patoman sebagai salah satu episentrum pelestarian seni budaya di Kecamatan Pagelaran diharapkan mampu memantik minat para pemuda untuk terlibat aktif dalam industri kreatif berbasis kearifan lokal, sekaligus membentengi diri dari paparan budaya asing yang destruktif.
"Kami berharap Gebyar Suro ini dapat dikonsolidasikan menjadi agenda budaya tahunan yang mampu menarik minat generasi muda serta memperkuat sasis kebersamaan. Mari kita jadikan pergantian Tahun Baru Islam ini sebagai momentum perbaikan tata kelola diri, memperkuat kohesi persatuan, meningkatkan kepedulian sosial, serta bergotong-royong membangun Kabupaten Pringsewu tanpa sedikit pun kehilangan akar budaya yang menjadi kebanggaan bersama," tegas Bupati Riyanto Pamungkas.
Pasca-pembukaan festival ini, Pemkab Pringsewu melalui dinas teknis terkait berencana melakukan tabulasi dan pembinaan berkelanjutan terhadap kelompok-kelompok seni jaranan yang tersebar di berbagai pekon. Optimalisasi ruang publik seperti lapangan desa sebagai panggung ekspresi berkala dinilai mendesak untuk menjaga stabilitas sirkulasi ekonomi kreatif di tingkat tapak. Melalui sasis kolaborasi yang erat antara komitmen birokrasi dan militansi para pegiat seni, Pringsewu optimistis dapat mewujudkan visi daerah yang maju, religius, namun tetap memegang teguh martabat kebudayaan nusantara.
Post a Comment