BANDAR LAMPUNG — Derasnya penetrasi penetrasi budaya asing dan disrupsi teknologi digital di era modern memicu kekhawatiran atas terkikisnya identitas nasional di kalangan generasi muda. Menyikapi fenomena tersebut, Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Lampung I dari Fraksi PDI Perjuangan, Mukhlis Basri, secara lantang menyerukan urgensi penguatan ketahanan kultural. Otoritas legislatif mendesak seluruh elemen masyarakat, komunitas seni, hingga struktur pemerintahan daerah untuk secara taktis mengintegrasikan kembali seni pertunjukan tradisional, khususnya wayang kulit, sebagai sasis utama dalam program pembentukan karakter (character building) kebangsaan.
Sinyal penyelamatan warisan budaya ini digaungkan Mukhlis di sela-sela kehadirannya dalam sebuah pagelaran wayang kulit yang sukses memobilisasi ratusan warga lintas generasi. Antusiasme massa yang memadati area pertunjukan dinilai menjadi modal sosial yang besar. Mantan Bupati Lampung Barat dua periode tersebut menegaskan bahwa sirkulasi nilai dalam seni wayang tidak boleh lagi diletakkan dalam sudut pandang hiburan anak tontonan semata. Sebaliknya, setiap lakon pewayangan harus diadopsi sebagai instrumen edukasi politik dan sosial yang mengajarkan sasis moralitas kepemimpinan, kejujuran, serta semangat gotong royong yang relevan dengan konstelasi kebangsaan saat ini.
Dalam perspektif makro kebudayaan, Mukhlis menyoroti pentingnya menciptakan ruang ekspresi yang berkelanjutan bagi para pelaku seni tradisional agar tidak tergilas oleh komodifikasi hiburan digital global. Langkah taktis yang diusulkan mencakup pengenalan kebudayaan lokal secara masif melalui panggung publik dan agenda edukasi formal di lembaga pendidikan. Proteksi terhadap seni tradisi ini dipandang krusial; bukan untuk bersikap antipati terhadap kemajuan zaman, melainkan sebagai tameng kultural agar generasi penerus bangsa tidak kehilangan jati diri dan akar sejarahnya di tengah kompetisi global yang kian tanpa batas.
"Wayang adalah identitas fundamental budaya bangsa yang wajib kita rawat secara kolektif. Di tengah gempuran globalisasi ini, jangan sampai generasi muda kita hanya menjadi konsumen fasih dari budaya luar, sementara warisan leluhur sendiri perlahan ditinggalkan. Melestarikan kebudayaan ini bukan sekadar merawat sejarah masa lalu, melainkan siasat kita dalam menjaga kedaulatan identitas dan martabat bangsa Indonesia di masa depan," tegas Mukhlis Basri.
Keberhasilan penyelenggaraan pagelaran budaya yang mendapat respons positif dari akar rumput ini diharapkan menjadi stimulus bagi para pemangku kebijakan di Lampung untuk lebih progresif mengucurkan stimulus anggaran pemeliharaan kebudayaan. Melalui integrasi yang solid antara komitmen politik parlemen dan partisipasi aktif masyarakat, sasis pelestarian budaya lokal di Provinsi Lampung optimistis dapat bergerak lebih dinamis. Agenda-agenda kebudayaan serupa ke depan dituntut untuk terus bergulir guna mempererat kohesi sosial sekaligus memastikan seni tradisi nusantara tetap hidup dan relevan di sepanjang zaman.
Post a Comment