Menolak Terus Tertinggal: Iyay Mirza Gulirkan Bed Dryer, KUA 3 Persen, dan Pupuk Cair Gratis di Sawah Mesuji



MESUJI – Barikade ketertinggalan ekonomi dan keterbatasan infrastruktur pertanian yang selama bertahun-tahun merantai potensi Kabupaten Mesuji mulai dipangkas secara radikal. Mengunci komitmen pembangunan dari wilayah pinggiran, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meluncurkan program modernisasi pertanian berbasis teknologi masif dari hulu ke hilir saat melakoni kunjungan kerja di Desa Tanjung Mas Makmur, Kecamatan Mesuji Timur, Rabu (24/6/2026).

Langkah intervensi ini diposisikan fungsional untuk mempercepat akselerasi di Kabupaten Mesuji yang nangkring sebagai raksasa pertanian strategis peringkat keempat dengan luas tanam tertinggi di Bumi Ruwa Jurai, yakni mencapai 56.000 hektar. Didampingi Bupati Mesuji Hj. Elfianah Khamami, Gubernur meninjau langsung sirkuit pengolahan pascapanen gabah menggunakan mesin pengering mekanis (Bed Dryer) berkapasitas 20 ton yang diserahkan resmi kepada Gapoktan Mekar Jaya Abadi.

“Saya ingat betul draf janji yang pernah saya sampaikan. Mesuji sudah capek ketinggalan dari daerah-daerah lain di Lampung. Hari ini saya hadir kembali untuk mengunci kepastian bahwa kemajuan struktural dan kedaulatan agraria itu benar-benar mendarat di sawah-sawah Mesuji,” tegas Gubernur yang akrab disapa Iyay Mirza tersebut berbobot.

Strategi Hulu-Hilir: Distribusi Benih Unggul IPB Hingga Kredit Alsintan Suku Bunga 3 Persen

Gubernur Mirza menguliti secara rigid juknis pembenahan sirkuit pangan secara bilateral. Di sektor hulu, Pemprov Lampung menginstruksikan draf penyebaran varietas benih unggul jenis IPB 9G dan IPB 3S yang terbukti adaptif dan mampu mendongkrak grafik produktivitas di atas 8 ton per hektar. Guna memotong biaya modal, pemerintah desa disuntik fasilitas produksi Pupuk Hayati Cair secara gratis, mengadopsi kesuksesan uji coba tahun 2025 di 500 desa yang terbukti menaikkan hasil panen sebesar 15 hingga 30 persen.

Bergerak ke sektor hilir, jaring pengaman modal agribisnis dipertebal melalui kerja sama strategis dengan Bank Lampung. Pemprov meluncurkan skema Kredit Usaha Alsintan (KUA) dengan stimulus suku bunga super ringan, yakni hanya 3 persen, yang dibidik khusus untuk merangsang minat bertani di kalangan milenial dan generasi muda rural.

Dalam sirkuit kunjungan tersebut, Iyay Mirza turut menggelontorkan paket stimulan senilai ratusan juta rupiah, meliputi 1.000 paket sembako, 250 kilogram belerang pengaman lahan, draf bantuan bibit kakao untuk diversifikasi perkebunan seluas 1.500 hektar, serta pencairan draf KUA senilai Rp562 juta.

Reaktivasi Lumbung Pangan Desa dan Kebut Konstruksi Jalan Brabasan - Wiralaga

Bupati Mesuji, Hj. Elfianah Khamami, memaparkan bahwa sasis potensial Mesuji diperkuat oleh Luas Baku Sawah (LBS) yang dilindungi secara hukum oleh Peraturan Daerah tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) seluas 28.671 hektar. Kehadiran mesin pengering mekanis dinilai strategis untuk memutus ketergantungan kronis petani terhadap fluktuasi cuaca ekstrem saat musim rendeng (penghujan).

Bupati Elfianah membeberkan rencana taktis Pemkab Mesuji untuk segera mereaktivasi program lumbung pangan keswadayaan di setiap desa yang sempat mati suri. Melalui skema iuran keswadayaan gabah sebanyak 10 kilogram per hektar pasca-panen, keberadaan bed dryer lokal digaransi mampu mengamankan stok pangan darurat desa secara berkelanjutan.

Selain urusan gabah, Pemkab Mesuji memberikan apresiasi tinggi atas dimulainya proyek pengerjaan fisik infrastruktur jalan provinsi yang menghubungkan koridor Brabasan hingga Wiralaga sepanjang 8,8 kilometer. Pembangunan jalan ini diproyeksikan memangkas ongkos solar truk logistik dan memperlancar distribusi hasil bumi menuju pasar hilir.

Solusi Konkret Petani: Jemur Padi Pangkas dari 7 Hari Jadi Hitungan Jam

Kelegaan emosional dirasakan langsung oleh akar rumput di Kecamatan Mesuji Timur. Ketua Gapoktan Mekar Jaya Abadi, Hj. Atun, menuturkan bahwa sebelum intervensi mekanisasi ini mendarat, petani di Desa Tanjung Mas Makmur harus bertaruh dengan cuaca dan memakan waktu hingga tujuh hari penuh hanya untuk menjemur padi secara tradisional. Proses manual yang lama tersebut sering kali memicu pembusukan, membuat kualitas gabah anjlok, dan parine digiling elek (hasil berasnya buruk).

Anane dryer, program desaku maju, pupuk mah wis yes, ngono ae (Dengan adanya pengering, program desaku maju, pupuk sudah oke, begitu saja). Alhamdulillah, tadi sudah dicoba langsung, hasil berasnya bagus, padinya juga bagus. Jadi ada nilai jual yang tinggi di sini, Pak,” ungkap Hj. Atun dengan logat Jawa-Mesuji yang kental.

Melalui portofolio pembangunan terintegrasi yang menggabungkan demonstrasi teknologi drone penyemprot lahan, pengerasan jalan provinsi, hingga stabilitas harga gabah pascapanen, Kabupaten Mesuji di pertengahan tahun 2026 ini resmi menanggalkan status daerah tertinggal. Sinergi ketat antara Pemerintah Pusat, Pemprov Lampung, dan Pemkab Mesuji diposisikan para analis kebijakan sebagai draf blueprint terbaik dalam mencetak kawasan lumbung pangan modern yang mandiri di sasis perbatasan provinsi. (***)

Post a Comment

Previous Post Next Post