Himpun 15 Cerita Rakyat Kabupaten/Kota: Bunda Literasi Lampung Targetkan Penerbitan Buku Konten Lokal di Musda II IKAPI


BANDAR LAMPUNG – Pemerintah Provinsi Lampung memperkuat sasis ketahanan budaya dan kecerdasan bangsa dengan menempatkan literasi sebagai pilar kemandirian daerah. Menatap disrupsi digital yang kian masif, Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Bunda Literasi Provinsi Lampung, Purnama Wulan Sari Mirza, meluncurkan draf gerakan membaca sepanjang hayat yang inklusif untuk seluruh lapisan masyarakat, Rabu (24/6/2026).

Penegasan substansial tersebut dikuliti secara berbobot saat dirinya membuka secara resmi Musyawarah Daerah (Musda) II Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Provinsi Lampung yang dirangkaikan dengan agenda Talkshow Literasi. Perhelatan akbar insan perbukuan ini dipusatkan di Nuwa Baca Zaenal Abidin Pagar Alam, kompleks Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Lampung.

“Literasi menolak kerdil jika hanya didefinisikan sebatas kemampuan mengeja kata dan menulis kalimat. Literasi adalah jendela peradaban hulu, fondasi utama kemajuan suatu daerah, serta kunci mutlak untuk mencetak masyarakat yang mampu berpikir kritis, bijaksana, dan tangguh menerjang arus informasi digital,” tegas perempuan yang akrab disapa Batin Wulan tersebut.

Jaga Konten Lokal: Proyeksi Buku Kumpulan Cerita Rakyat Lintas 15 Daerah di Lampung

Dalam sirkuit forum tersebut, Bunda Literasi Lampung membongkar rencana taktis Pemprov untuk membentengi kekayaan budaya tradisional dari kepunahan digital. Batin Wulan mengumumkan draf proyek prestisius berupa rencana penerbitan draf buku kumpulan cerita rakyat komprehensif yang menghimpun kekayaan narasi lisan dari 15 kabupaten/kota se-Provinsi Lampung.

Langkah intervensi literasi berbasis kearifan lokal (indigenous literacy) ini sengaja digandengkan dengan ekosistem penerbitan lokal agar Lampung memiliki hak paten dan dokumentasi sejarah yang kuat bagi generasi mendatang. Ekosistem ini diperkuat oleh revitalisasi fungsi gedung perpustakaan daerah oleh dinas terkait, yang kini disulap fungsional dari sekadar gudang buku pasif menjadi ruang edukasi terbuka sekaligus destinasi rekreasi kreatif keluarga rural.

“Budaya membaca menolak berhenti di gerbang sekolah. Kita semua, dari usia dini hingga usia senja, wajib mengasah ketajaman literasi secara sirkular. Buku cerita daerah ini nantinya akan menjadi jangkar moral sekaligus portofolio budaya Lampung di tingkat nasional,” urai Batin Wulan berbobot.

Indonesia Episentrum Perbukuan ASEAN: Tantangan IKAPI Lampung Tembus Pasar Global

Draf kebijakan penguatan konten lokal tersebut disambut optimis oleh Ketua Umum Pengurus Pusat IKAPI, Arif Hilman Nugraha. Ia memaparkan draf data makro industri kreatif di mana Indonesia saat ini nangkring sebagai kiblat dan pusat keunggulan (center of excellence) industri perbukuan terbesar di kawasan Asia Tenggara dengan sokongan lebih dari 2.800 penerbit aktif.

IKAPI pusat mendesak para penulis, editor, dan pengusaha penerbitan di Bumi Ruwa Jurai untuk lebih berani mengeksploitasi keunikan bahasa dan ragam tradisi Lampung. Dengan juknis pengemasan yang modern, konten-konten lokal Lampung memiliki nilai jual tinggi untuk menembus sirkuit pasar internasional melalui skema pertukaran hak cipta (rights trade) dan penerjemahan bahasa asing.

Senada dengan hal itu, Ketua IKAPI Provinsi Lampung, Ikhsanuddin, berharap momentum Musda II ini melahirkan draf program taktis berupa draf pelatihan masif bagi penulis muda dan pengelola penerbitan di tingkat tapak.

Melalui kolaborasi inklusif antara barisan penerbit, komunitas penulis, dan stimulus regulasi dari Dinas Perpustakaan Daerah, indeks literasi masyarakat Lampung sepanjang tahun anggaran 2026 ditargetkan mampu melompat naik menembus zona keunggulan nasional. (***)

Post a Comment

Previous Post Next Post