Kebaya Terakhir untuk Ibu: Suasana Wisuda ke-75 UBL Mendadak Hening Saat Nama Almarhum Prabowo Dipanggil

 


BANDAR LAMPUNG – Gemuruh sorak kebahagiaan yang menyelimuti Convention Hall, Mahligai Agung Pascasarjana Universitas Bandar Lampung (UBL) mendadak surut dan berganti keheningan yang mendalam, Rabu (3/6/2026). Ratusan pasang mata yang hadir dalam sirkuit prosesi Wisuda ke-75 UBL tersebut tertuju pada sirkuit panggung utama dengan tatapan berkaca-kaca.

Suasana khidmat sekaligus haru itu pecah saat nama Prabowo Adi Putra dipanggil oleh pembawa acara untuk menerima gelar Sarjana Administrasi Bisnis (S.A.B.). Bukan sosok pemuda tegap yang melangkah maju, melainkan ibundanya yang berjalan dengan perlahan, berbalut kebaya pilihan terakhir sang putra.

Prabowo telah menyelesaikan seluruh sirkuit kewajiban akademiknya dengan sempurna. Namun, takdir berkata lain. Sang khalik memanggilnya pulang ke pangkuan keabadian sebelum dirinya sempat merasakan sirkuit pemindahan tali toga. Sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas dedikasi dan kerja keras mendiang, senat akademik UBL tetap menganugerahkan gelar sarjana tersebut secara anumerta.

Wujudkan Pesan Terakhir Lewat Kebaya Kelulusan

Momen wisuda ini sejatinya menjadi sirkuit perayaan atas janji manis almarhum kepada sang ibu. Sebelum berpulang, mendiang Prabowo sempat menyiapkan hari kelulusannya dengan detail, termasuk memilihkan sepotong pakaian untuk wanita tercintanya.

“Bu, ini kebaya untuk dipakai waktu Aa’ wisuda ya,” kisah kalimat terakhir Prabowo yang terus membekas di relung hati ibundanya.

Janji itu mewujud nyata, meski dalam sirkuit takdir yang berbeda. Kebaya yang dipilihkan mendiang mengiringi langkah sang ibu naik ke atas panggung untuk menerima lembar ijazah dari Rektor UBL. Di balik kain kebaya itu, tersimpan kisah fluktuasi perjuangan seorang anak yang bertarung membagi waktu antara bangku kuliah dan dunia kerja.

Mengenang Pendiri 'Glug Kopi': Cerdas, Santun, dan Mandiri

Di mata para akademisi UBL, almarhum bukan sekadar mahasiswa reguler yang mengejar absensi. Dosen penguji skripsi mendiang, Suci Asfarani, mengenang Prabowo sebagai salah satu potret mahasiswa ideal yang cerdas, santun, aktif berdiskusi, namun tetap memiliki kerendahan hati yang tinggi.

Dorongan ekonomi dan mimpi besar untuk mengangkat derajat keluarga serta masa depan adiknya, memaksa Prabowo untuk melakoni sirkuit kuliah sambil bekerja. Jiwa kewirausahaan yang diasah di Program Studi Administrasi Bisnis UBL dibuktikannya secara konkret di lapangan dengan merintis usaha kedai kopi lokal bernama Glug Kopi.

“Prabowo sering berdiskusi dengan saya mengenai sirkuit strategi pengembangan Glug Kopi. Saya melihat sendiri betapa besar tanggung jawab dan semangatnya. Ia memiliki keberanian untuk memulai sesuatu dan kemauan besar untuk terus belajar. Usaha kopi itu menjadi bukti nyata bahwa ia tidak hanya memelihara mimpi, tapi juga berupaya mewujudkannya,” urai Suci Asfarani dengan nada bergetar, Kamis (4/6/2026).

Bagi jajaran fakultas dan rekan sejawatnya, kepulangan Prabowo menyisakan duka yang mendalam sekaligus kebanggaan yang kokoh. Kendati raga sang mahasiswa tidak lagi hadir di tengah fluktuasi kemeriahan wisuda, lembar ijazah yang kini didekap erat oleh sang ibu menjadi bukti otentik bahwa seluruh tetesan keringat, pengorbanan, dan sirkuit perjuangan Prabowo Adi Putra telah tuntas dan abadi. (***)

Post a Comment

Previous Post Next Post