Misteri Kematian Santri di Sukabumi: Polisi Temukan Unsur Kekerasan, Ibu Tiri Diperiksa Intensif

 


SUKABUMI, 23 Februari 2026 – Kepolisian Resor (Polres) Sukabumi resmi menaikkan status kasus kematian remaja berinisial NS (13) dari penyelidikan ke tingkat penyidikan. Langkah ini diambil setelah penyidik menemukan bukti permulaan yang cukup mengenai adanya unsur tindak pidana kekerasan, baik secara fisik maupun psikis, terhadap korban.

NS, yang merupakan santri kelas 1 SMP, meninggal dunia pada Kamis sore setelah sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Jampangkulon dengan kondisi kulit melepuh di sekujur tubuh.

Kapolres Sukabumi, AKBP Samian, menegaskan bahwa pihaknya bekerja secara maraton untuk mengungkap fakta di balik kematian remaja yang bercita-cita menjadi kiai tersebut.

“Kami sudah menemukan beberapa alat bukti yang meyakinkan adanya peristiwa pidana kekerasan terhadap korban. Saat ini, total 16 saksi telah dimintai keterangan, termasuk keluarga, saksi di TKP, dan tenaga medis,” ujar AKBP Samian dalam keterangan resminya, Minggu (22/2).

Hasil Autopsi dan Temuan Luka Bakar Kepala RS Bhayangkara Setukpa, Kombes Pol dr. Carles Siagian, mengungkapkan hasil autopsi sementara menunjukkan adanya luka bakar di beberapa bagian tubuh korban, yakni di lengan, kaki kanan dan kiri, punggung, serta area bibir dan hidung.

Meski demikian, tim dokter forensik masih melakukan pemeriksaan laboratorium lanjutan di Jakarta untuk mengecek kandungan zat pada organ dalam korban, mengingat adanya pembengkakan pada paru-paru. Hal ini dilakukan guna memastikan apakah luka-luka tersebut merupakan penyebab langsung kematian atau terdapat faktor medis lain.

Pengakuan Korban Sebelum Wafat Ayah korban, Anwar Satibi, mengungkapkan kecurigaan muncul saat dirinya melihat kondisi kulit anaknya yang melepuh. Saat itu, ibu tiri korban berinisial TR (47) berdalih bahwa kondisi tersebut disebabkan oleh sakit panas yang diderita NS.

Namun, fakta memilukan terungkap saat pengurus pondok pesantren, Isep Dadang Sukmana, menanyai korban di ruang IGD sebelum menghembuskan napas terakhir. Berdasarkan keterangan sang ayah, korban mengaku telah dipaksa meminum air panas oleh ibu tirinya.

"Hal yang paling membuat saya sakit adalah dia punya cita-cita ingin jadi kiai. Saat saya beri uang saku terakhir, dia bilang alhamdulillah untuk bekal di pesantren," kenang Anwar dengan penuh duka.

Polisi Fokus pada Pembuktian Ilmiah Hingga saat ini, polisi belum menetapkan tersangka meski kasus sudah naik ke penyidikan. AKBP Samian menegaskan bahwa Polri mengutamakan pembuktian ilmiah (scientific crime investigation) dan tidak ingin terburu-buru oleh spekulasi di media sosial.

Pemeriksaan terhadap ibu tiri korban telah dilakukan, namun hasilnya belum dibeberkan kepada publik. Polisi berkomitmen untuk profesional dan teliti dalam mencocokkan keterangan saksi dengan hasil visum serta autopsi guna menjamin keadilan bagi almarhum NS.

Post a Comment

Previous Post Next Post