Viral Pembentukan Daratan Baru 30,3 Hektare di Gunung Anak Krakatau, Pos Pantau Buka Suara


 LAMPUNG SELATAN — Jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya kabar kemunculan daratan baru di sekitar kawasan perairan Gunung Anak Krakatau (GAK) yang terletak di perairan Selat Sunda. Daratan tersebut terbentuk dari tumpukan material vulkanik pasca-rangkaian intensitas erupsi yang terjadi pada Juli 2026 lalu.

Menanggapi kabar yang viral dan memicu perbincangan publik tersebut, Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, Suwarno, memberikan konfirmasi serta penjelasan resminya.

Suwarno membenarkan bahwa kemunculan daratan baru di area perairan kompleks vulkanik Gunung Anak Krakatau merupakan fenomena nyata. Namun, ia meluruskan persepsi masyarakat yang menganggap daratan tersebut muncul secara mendadak atau akibat proses anomali alam yang misterius.

Menurut penjelasannya, daratan baru tersebut terbentuk secara bertahap melalui proses pengendapan dan akumulasi material vulkanik—seperti abu, pasir, batu apung, hingga lava—yang terlontar secara terus-menerus sejak erupsi hebat pada Juli 2026.

"Iya, memang benar. Itu hasil dari letusan kemarin. Mulai dari letusan itu, dari bulan Juli. Enggak mungkin mendadak dapat segitu," ujar Suwarno saat memberikan keterangan kepada awak media.

Berdasarkan hasil pengamatan dan estimasi tim pemantau di lapangan, daratan baru hasil akumulasi material letusan tersebut diperkirakan memiliki luas mencapai 30,3 hektare. Posisinya hingga kini masih berada di dalam zona inti perairan kawasan Gunung Anak Krakatau.

Meskipun pembentukan daratan baru ini merupakan bagian dari siklus alamiah dan dinamika vulkanis pasca-erupsi gunung api laut, masyarakat, nelayan, serta wisatawan diimbau untuk tidak mendekati radius aman yang telah ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) demi mengantisipasi potensi bahaya aktivitas susulan.

Post a Comment

Previous Post Next Post