BANDAR LAMPUNG — Pertumbuhan ekonomi daerah tidak selalu berawal dari megahnya kawasan industri atau pembangunan fisik di pusat perkotaan. Di Provinsi Lampung, arah baru pembangunan mulai ditata dari kawasan perdesaan melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia. Lewat gagasan Satu Desa Satu Sarjana, Pemerintah Provinsi Lampung di bawah kepemimpinan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menginisiasi investasi intelektual dengan membuka akses pendidikan tinggi bagi anak-anak desa, khususnya dari keluarga petani dan masyarakat berpenghasilan rendah.
Melalui program beasiswa daerah ini, para penerima manfaat diproyeksikan untuk kembali ke daerah asal setelah menyelesaikan studi guna membawa inovasi, teknologi, serta pengetahuan yang relevan bagi kemajuan desanya.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menggarisbawahi pentingnya konsep rural brain gain—yaitu mekanisme masuknya kembali tenaga terdidik dan talenta muda ke perdesaan guna memutus tren perpindahan anak muda berpendidikan ke kota besar. Untuk mendukung efisiensi produksi dan mekanisasi, fokus program diarahkan pada bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
"Pemerintah tidak ingin desa hanya menjadi tempat berlangsungnya pembangunan, tetapi menjadi sumber inovasi itu sendiri. Kita membutuhkan pengetahuan yang dapat diterjemahkan menjadi teknologi, efisiensi produksi, hingga hilirisasi ekonomi kerakyatan," ujar Gubernur.
Manusia Sebagai Infrastruktur Pembangunan
Langkah strategis ini sejalan dengan pandangan Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Marindo Kurniawan, terkait urgensi pengelolaan bonus demografi. Berdasarkan data pembangunan daerah, sekitar 69,24 persen atau 6,52 juta jiwa penduduk Lampung berada pada usia produktif.
Menurut Marindo, besarnya jumlah penduduk usia produktif berpotensi menjadi pisau bermata dua jika tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas dan relevansi keterampilan. Lulusan perguruan tinggi didorong untuk tidak sekadar mencari lapangan kerja, melainkan menciptakan peluang usaha baru serta berkontribusi langsung dalam penguatan ekonomi lokal.
"Tantangan generasi muda bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi juga menciptakan peluang dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan dari tingkat desa," tegas Sekdaprov Marindo Kurniawan dalam suatu kesempatan akademis.
Pematangan Program dan Kepastian Fiskal
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung, Thomas Amirico, menjelaskan bahwa program Satu Desa Satu Sarjana saat ini tengah berada dalam tahap pematangan regulasi dan mekanisme teknis, dengan target mulai dikembangkan secara bertahap pada tahun 2027.
Pemerintah daerah sedang mengkaji integrasi data kesejahteraan sosial (Desil 1 dan 2), keterlibatan pemerintah desa dalam proses seleksi, penentuan perguruan tinggi mitra, serta skema pembiayaan yang berkelanjutan (sustainable). Dalam skenario perencanaan awal, Pemprov Lampung memproyeksikan sasaran penerima beasiswa berkisar antara 2.500 hingga 2.600 mahasiswa menyesuaikan jumlah desa/kelurahan di seluruh wilayah Lampung.
"Program ini membutuhkan komitmen jangka panjang karena beban anggaran akan terakumulasi seiring bertambahnya angkatan mahasiswa. Oleh sebab itu, kalkulasi kemampuan fiskal daerah dilakukan secara matang agar kepastian studi mahasiswa dapat dijamin hingga lulus," terang Thomas Amirico.
Tantangan terbesar program ini dipastikan terletak pada kesiapan ekosistem pasca-kelulusan. Agar para sarjana baru tidak kembali terserap ke kota, Pemprov Lampung perlu mengintegrasikan peran lulusan dengan BUMDes, koperasi, UMKM, dan sektor pertanian lokal sehingga pengetahuan yang didapat dari bangku kuliah mampu terkonversi menjadi nilai tambah ekonomi yang nyata di desa.
Post a Comment