Operasi Modifikasi Cuaca Resmi Berakhir, BPBD Lampung Andalkan Mitigasi Maraton Hadapi El Nino

 


BANDAR LAMPUNG — Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang diselenggarakan di Provinsi Lampung resmi berakhir pada Rabu (2/9/2026). Setelah sempat diperpanjang selama tiga hari, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung kini beralih memperkuat langkah-langkah mitigasi darat guna menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi kering dan fenomena El Nino.

Analis Bencana BPBD Provinsi Lampung, Wahyu Hidayat, mengonfirmasi bahwa pelaksanaan OMC yang berlangsung sejak 26 Agustus hingga 2 September 2026 tersebut berhasil menyelesaikan total 10 sorti atau penerbangan penyemaian awan.

"Secara total sudah dilakukan sembilan kali sorti penerbangan. Ini barusan saja pukul 11.15 WIB dilakukan sorti yang ke-10 dengan menyasar wilayah Lampung Selatan, meliputi Rajabasa, Penengahan, Kalianda, hingga Palas," terang Wahyu.

Penyemaian Awan dan Pengaruh Terhadap Bendungan

Wahyu menjelaskan bahwa penerbangan terakhir difokuskan untuk melakukan penyemaian Natrium Klorida (garam semai) terhadap awan-awan konvektif yang terdeteksi memiliki potensi menghasilkan curah hujan.

Meskipun OMC dinilai cukup efektif memancing hujan di sejumlah titik sasaran—yang dibuktikan melalui pemantauan dan dokumentasi tim darat—penerbangan tersebut tidak memberikan dampak langsung terhadap peningkatan debit air di tiga bendungan besar Lampung, yakni Bendungan Batu Tegi, Margatiga, dan Way Sekampung. Hal ini disebabkan dari 10 sorti yang menerbang, tidak ada penyemaian yang dilakukan tepat di atas kawasan tangkapan air bendungan tersebut.

Tantangan El Nino dan Strategi Mitigasi 'Pola Maraton'

Berakhirnya OMC menandai tantangan baru bagi kesiapsiagaan bencana di Lampung. Berdasarkan pemantauan radar cuaca terkini, potensi pembentukan awan hujan di atas wilayah Lampung mulai menipis dan minim. Kondisi ini menuntut kesiapan masyarakat dalam mengarungi fase puncak musim kemarau dan El Nino.

BPBD Lampung mengingatkan bahwa menghadapi ancaman kekeringan serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memerlukan daya tahan (durability) yang tinggi dari seluruh elemen masyarakat maupun pemerintah daerah.

"Pas setelah OMC berakhir, kalau berdasarkan pantauan radar memang awan yang terbentuk di atas Lampung sedikit banget. Jadi kita masih akan menjalani fase hidrometeorologi kering ini. Ingat, perlawanan kita terhadap bencana titik kering ini adalah pola maraton, bukan pola sprint. Durability kita dituntut untuk lebih ditingkatkan karena daya tahan kita menghadapi potensi bencana ini lebih panjang," tegas Wahyu.

Guna menekan risiko bencana, BPBD mengimbau masyarakat untuk lebih bijak mengelola penggunaan air bersih, menghindari praktik pembakaran lahan secara sembarangan, serta memperkuat koordinasi tanggap darurat di tingkat kabupaten/kota.

Post a Comment

Previous Post Next Post