JAKARTA — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat penurunan jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional menjadi 567 titik hingga Sabtu (12/9/2026) pukul 21.04 WIB. Angka tersebut menunjukkan penurunan sebanyak 121 titik dibandingkan hari sebelumnya.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengawasan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kemenhut yang bersumber dari citra satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, Provinsi Kalimantan Tengah masih menjadi wilayah prioritas dengan titik panas terbanyak, yakni 197 titik (turun dari sebelumnya 271 titik).
Meskipun secara nasional mengalami penurunan, dinamika kenaikan hotspot masih terjadi di Kalimantan Barat (meningkat dari 51 menjadi 91 titik) dan Sumatera Selatan (melonjak dari 11 menjadi 62 titik). Sementara itu, Kalimantan Selatan mengalami penurunan menjadi tujuh titik, serta Riau dan Jambi tercatat nihil hotspot.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, menjelaskan bahwa perkembangan karhutla di lapangan sangat dinamis dan dipengaruhi faktor vegetasi serta cuaca. Ia menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan dan tidak selalu menunjukkan kejadian kebakaran tunggal, sehingga groundcheck atau verifikasi lapangan wajib dilakukan.
"Penyemaian garam melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Barat saja telah menghasilkan perkiraan volume air hujan mencapai 87,9 juta meter kubik untuk membantu pembasahan lahan gambut dan pemadaman," ungkap Ristianto Pribadi dalam keterangannya.
53 Armada Udara dan Helikopter Chinook Jepang Disiagakan
Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar penanganan karhutla dilakukan sedini mungkin tanpa menunggu api membesar, pemerintah menyiagakan total 53 armada udara di enam provinsi prioritas. Sebanyak 34 armada difokuskan untuk water bombing, sedangkan 19 armada lainnya dikerahkan untuk patroli udara serta mendukung OMC.
Operasi pemadaman udara di Kalimantan Barat kini juga diperkuat dengan kedatangan tiga unit helikopter berat CH-47 Chinook bantuan dari Pemerintah Jepang melalui skema kerja sama Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR) Indonesia-Jepang.
Di tingkat tapak, Satgas Karhutla yang terdiri dari personel Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, serta kelompok masyarakat peduli api terus mengintensifkan patroli dan pemadaman darat.
Kemenhut mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk tetap mewaspadai kualitas udara (PM2,5) yang di beberapa titik Kalimantan dan Sumatera sempat menyentuh kategori tidak sehat hingga berbahaya, serta melarang keras aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar.
Post a Comment