JAKARTA — Penyelenggaraan pameran "Kayu Ara: Arsitektur, Teknologi, dan Budaya Lampung dalam Karya dan Pemikiran Anshori Djausal" di Contemporary Art Gallery, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, menjadi momentum penting untuk membaca kembali rekam jejak, kontribusi akademis, serta pemikiran ekologis sosok multitalenta asal Lampung, Ir. H. Anshori Djausal, M.T.
Lahir di Kotabumi, Lampung Utara, pada 13 Maret 1952, lulusan Magister Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) ini dikenal luas sebagai akademisi, dosen Fakultas Teknik Universitas Lampung (Unila) periode 1983–2017, pakar ferrocement (ferosemen), budayawan, hingga pelestari lingkungan.
Pameran bertajuk Kayu Ara—yang merujuk pada simbol pohon kehidupan (Ficus variegata) dalam kosmologi masyarakat Lampung—menampilkan perjalanan intelektual Anshori selama lebih dari empat dekade melalui kurasi arsip foto, gambar teknik, masterplan, publikasi ilmiah, hingga instalasi seni kontemporer.
Dalam diskursus rekayasa sosial dan pembangunan, rekam jejak Anshori Djausal dinilai sebagai bentuk pengejawantahan nyata dari teori Intermediate Technology atau Teknologi Tepat Guna yang dirumuskan oleh ekonom E.F. Schumacher (Small Is Beautiful). Konsep ini menekankan keseimbangan tiga pilar utama: Manusia (People Matter), Sumber Daya Lokal (Local Resources), dan Skala Manusia (Human Scale).
Pengembangan Ferosemen dan Mahakarya Menara Siger
Salah satu kontribusi akademis fundamental Anshori Djausal di bidang rekayasa sipil adalah kepeloporannya dalam meneliti dan mengaplikasikan material komposit ferosemen sejak menjadi staf peneliti ITB (1977–1983) hingga mempublikasikan karya ilmiah internasional "Nine Years of Ferrocement" pada April 1988.
Teknologi ferosemen yang mengandalkan jaring kawat baja tipis berlapis (wire mesh) dan mortar semen ini terbukti fleksibel, tahan korosi, hemat biaya, serta padat karya. Pada era 1990-an, Anshori menerapkan teknologi ini untuk pembuatan perahu nelayan di Pangandaran serta fasilitas air bersih dan sanitasi di pedesaan berbasis keterlibatan masyarakat (Sakai Sambayan).
Puncak penerapan teknologi ini dibuktikannya saat merancang mahakarya Menara Siger di Bakauheni, Lampung Selatan (2004–2005). Monumen setinggi 110 meter di atas permukaan laut ini menggunakan struktur ferosemen pada atap dan kubah lengkung mahkota Siger. Pemilihan material ini terbukti brilian dalam menghadapi gaya hambat aerodinamis (drag force) dan tekanan angin pesisir yang ekstrem, sekaligus membuktikan bahwa Teknologi Tepat Guna dapat dielevasi menjadi arsitektur monumental berskala nasional.
Pameran yang dikuratori oleh anak muda asal Lampung, Angga Wijaya, ini membagi fokus sajian ke dalam tiga pilar utama: Arsitektur dan Masyarakat, Teknologi dan Lingkungan, serta Budaya Lampung. Melalui pameran ini, gagasan dan nilai-nilai lokal seperti Nemui Nyimah, Pi'il Pesenggiri, dan Sakai Sambayan diterjemahkan kembali agar tetap relevan dalam menjawab tantangan krisis ekologis serta pembangunan berkelanjutan masa kini.
Post a Comment