PESAWARAN — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pesawaran melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menjalin kolaborasi strategis dengan Tim Ahli dari Institut Teknologi Sumatera (ITERA) guna merumuskan Dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) Kabupaten Pesawaran Periode 2026–2030.
Langkah penguatan mitigasi dan perencanaan kebencanaan tersebut dimatangkan melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Penyusunan KRB yang digelar di Ruang Rapat Teluk Ratai, Sekretariat Daerah Kabupaten Pesawaran, Selasa (22/9/2026).
Kegiatan FGD dibuka oleh Bupati Pesawaran, Hj. Nanda Indira Bastian, S.E., M.M., yang diwakili oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra), Sunyoto, S.E., M.M. Forum ini diikuti oleh unsur Forkopimda, DPRD Pesawaran, perwakilan instansi vertikal, perangkat daerah terkait, akademisi, para camat, kepala desa, serta perwakilan organisasi relawan kebencanaan.
Dalam sambutannya, Asisten Pemkesra Sunyoto menegaskan bahwa dokumen KRB merupakan instrumen krusial dan landasan utama dalam penyusunan kebijakan penanggulangan bencana daerah yang terukur. Upaya reduksi risiko bencana tidak lagi berfokus pada respons pasca-kejadian, melainkan bergeser ke tahapan perencanaan, pencegahan, dan kesiapsiagaan sejak dini.
"FGD ini dilaksanakan untuk menjaring masukan, data sektoral serta melakukan validasi terhadap peta risiko, sehingga dapat menghasilkan dokumen KRB yang akurat dan aplikatif. Bencana memang tidak dapat diprediksi secara pasti, namun dampaknya dapat diminimalisir melalui perencanaan yang baik," ujar Sunyoto.
Sementara itu, Ketua Tim Ahli ITERA yang juga Dosen Program Studi Teknik Geologi, Rezki Naufan Hendrawan, S.T., M.T., memaparkan bahwa KRB Pesawaran 2026–2030 dirancang menggunakan pendekatan spasial terintegrasi untuk mengukur tingkat risiko melalui analisis kombinasi antara tingkat bahaya (hazard), kerentanan (vulnerability), dan kapasitas (capacity).
Kajian awal menyoroti kondisi geografis Pesawaran yang sangat beragam—mencakup kawasan pesisir, perbukitan, pulau-pulau kecil, hingga daerah aliran sungai (DAS)—sehingga menyimpan ancaman bencana geologi maupun hidrometeorologi. Jenis ancaman yang dianalisis meliputi banjir, banjir bandang, gempa bumi, kekeringan, tanah longsor, Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), hingga tsunami.
Hasil analisis sementara Tim ITERA mengindikasikan potensi bahaya banjir kelas sedang dan tinggi terkonsentrasi di Kecamatan Negeri Katon. Sementara ancaman banjir bandang terdeteksi di Kecamatan Padang Cermin dengan luasan bahaya mencapai 1.099,57 hektare. Selain itu, potensi Karhutla kelas tinggi juga terdeteksi di Negeri Katon, serta ancaman tsunami kelas tinggi berada di sepanjang kawasan pesisir Padang Cermin.
Selain pemetaan bahaya, KRB turut menghitung parameter kerentanan sosial-budaya, ekonomi, fisik, dan ekologi, yang dipadukan dengan penilaian Indeks Ketahanan Daerah (IKD) serta Indeks Kesiapsiagaan Masyarakat (IKM).
Tahapan penyusunan KRB ini selanjutnya akan memasuki proses finalisasi kajian kerentanan, penyusunan Peta IKM, asistensi teknis bersama BNPB, penetapan rekomendasi kebijakan, hingga pelaksanaan konsultasi publik guna menghasilkan pedoman penataan ruang dan pembangunan daerah yang tangguh serta berkelanjutan.
Post a Comment