WAY PANJI — Di balik deretan arsitektur adat dan lantunan doa di Desa Balinuraga, Kecamatan Way Panji, Kabupaten Lampung Selatan, tersimpan tradisi sakral Ngaben Massal. Ajang ritual adat masyarakat Hindu Bali-Lampung ini diselenggarakan setiap tiga tahun sekali sebagai wujud bakti luhur anak kepada orang tua dan para leluhur.
Pada penyelenggaraan tahun 2026, Ngaben Massal Balinuraga mencatatkan rekor skala terbesar sepanjang sejarah pelaksanaannya. Sebanyak 153 jenazah dewasa dan 132 jenazah anak (ngelungah/ngrapuh) diupacarai secara massal, dengan puncak ritual penyucian (pembakaran/pengabuan) yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Kepala Desa Balinuraga, Made Suwede, menjelaskan bahwa rangkaian panjang ritual adat ini sudah dimulai sejak 14 Juli dan akan berlangsung hingga 10 Agustus 2026.
"Tahun ini menjadi Ngaben Massal terbesar yang pernah kami laksanakan. Filosofi utamanya bukan pada kemegahan prosesi, melainkan bentuk bakti seorang anak kepada leluhur yang telah melahirkan dan membesarkan kita," ujar Made Suwede.
Bade Raksasa Setinggi 24 Meter & Peserta Lintas Provinsi
Kemegahan Ngaben Massal 2026 ditandai dengan berdirinya bade—menara usungan jenazah menuju tempat pembakaran—dengan ketinggian mencapai 24 meter. Struktur bade raksasa ini menjadi salah satu yang tertinggi yang pernah dibangun oleh warga Balinuraga secara gotong royong.
Daya tarik dan keharmonisan tradisi ini tidak hanya menyerap keterlibatan warga lokal Lampung Selatan, tetapi juga menyatukan umat Hindu dari berbagai wilayah di Indonesia.
Poin Strategis Puncak Ngaben Massal Balinuraga 2026:
Sebaran Peserta: Diikuti oleh keluarga krama dari Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, kabupaten/kota se-Provinsi Lampung, hingga warga asal Pulau Bali.
Gotong Royong & Kebersamaan: Penggalangan biaya, pembuatan sarana upakara, hingga konsumsi dikerjakan secara kolektif tanpa sekat status sosial.
Potensi Wisata Budaya: Menjadi destinasi spiritual tourism yang menyedot perhatian wisatawan nusantara dan mancanegara.
Menjaga Identitas Budaya di Tengah Modernisasi
Meskipun berlangsung di perantauan tanah Sumatera, masyarakat Desa Balinuraga terbukti konsisten merawat tradisi leluhur selama puluhan tahun (diperkirakan sudah berlangsung lebih dari 15 kali gelombang ngaben massal).
Ritual ini sekaligus menjadi sarana edukasi karakter bagi generasi muda setempat agar tetap memiliki fondasi spiritual, menghormati ajaran norma agama, serta memelihara semangat kebersamaan (mepatung/ngayah) di tengah arus globalisasi.
Post a Comment