Jejak Local Genius Lampung: Arca Gramadewata Abad XV Diselipi Badik di Pinggang


 LAMPUNG TIMUR — Provinsi Lampung memiliki rekam sejarah kebudayaan yang unik berupa penemuan Arca Gramadewata di puncak Gunung Langkap, Kecamatan Bandar Sribhawono, Kabupaten Lampung Timur. Arca batu andesit berukuran tinggi 100 cm, lebar 40 cm, dan diameter 47 cm ini menggambarkan sosok antropomorfik yang diyakini sebagai manifestasi “dewa” atau tokoh leluhur lokal pada periode Klasik Akhir (Abad XV Masehi).

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Lampung, Ir. Anshori Djausal, M.T., menilai arca tersebut merupakan wujud nyata local genius masyarakat Lampung pada masa lalu yang mampu mengadaptasi budaya luar tanpa mengikis identitas aslinya. Sementara itu, Arkeolog Museum Lampung, I Made Giri Gunadi, S.S., M.Si., menjelaskan bahwa arca tersebut dipahat langsung (direct carving) menggunakan teknik reduksi pada batu monolit dengan bentuk kaku khas tradisi megalitik.

Uniknya, arca ini menyimpang dari pakem pantheon Hindu-Buddha pada umumnya. Arca ini menampilkan figur berambut panjang yang disanggul, kalung dengan bandul di bagian punggung, serta senjata tajam menyerupai badik atau pisau yang diselipkan di pinggang belakang.

"Arca Gramadewata merepresentasikan transformasi budaya dan perpaduan tradisi megalitik Nusantara dengan pengaruh Hindu-Buddha yang melahirkan ekspresi budaya lokal yang khas (local genius) di Lampung," terang I Made Giri Gunadi, Rabu (12/8/2026).

Karakteristik Unik Arca Gramadewata

Meskipun dibuat pada Abad XV Masehi, struktur proporsi arca ini tergolong sederhana dan memiliki kemiripan gaya estetika dengan arca-arca Polinesia purba.

Poin Utama Penemuan Arca Gramadewata:

  • Lokasi Penemuan: Puncak Gunung Langkap, Kecamatan Bandar Sribhawono, Lampung Timur.

  • Dimensi & Bahan: Batu andesit monolit (Tinggi: 100 cm, Lebar: 40 cm, Diameter: 47 cm).

  • Periodisasi: Abad XV Masehi (Masa Klasik Akhir).

  • Ciri Khas Fisik: Rambut disanggul, kalung berbandul di punggung, serta senjata tajam (badik/pisau) terselip di pinggang belakang.

  • Nilai Historis: Perpaduan (syncretism) antara budaya megalitik lokal dan pengaruh Hindu-Buddha tanpa kehilangan karakter asli Lampung.

Post a Comment

Previous Post Next Post