BANDAR LAMPUNG — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Lampung mengalami peningkatan signifikan seiring memasukinya puncak musim kemarau 2026 yang diperparah fenomena El Nino. Berdasarkan data pemantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung, terdeteksi sebanyak 54 titik panas (hotspot) yang tersebar di berbagai kabupaten, mulai dari tingkat kepercayaan tinggi di Tulang Bawang, status sedang di Way Kanan, Mesuji, Tulang Bawang Barat, Lampung Tengah, Pesisir Barat, dan Lampung Timur, hingga puluhan titik berstatus rendah di daerah lainnya.
Menanggapi situasi tanggap darurat lingkungan tersebut, Karang Taruna Provinsi Lampung mengambil inisiatif untuk menggerakkan potensi pemuda di tingkat tapak. Ketua Karang Taruna Provinsi Lampung, Wahrul Fauzi Silalahi, menegaskan bahwa penanganan karhutla tidak boleh hanya bergantung pada pemerintah maupun aparat TNI dan Polri, melainkan butuh partisipasi aktif pemuda desa dan pemuda tani sebagai barisan terdepan pencegahan bencana.
Langkah konkret yang disiapkan Karang Taruna meliputi edukasi pemanfaatan limbah pertanian menjadi kompos tanpa pembakaran, sinergi unit teknis pemuda dengan Posko Satgas Karhutla dan BPBD untuk deteksi dini titik panas, serta penguatan kampanye larangan pembakaran sampah liar dan pembuangan puntung rokok sembarangan hingga tingkat RT dan RW.
"Potensi kebakaran lahan tidak bisa hanya dibebankan penanganannya kepada pemerintah atau aparat keamanan semata. Pemuda desa dan pemuda tani yang terhimpun dalam Karang Taruna harus menjadi benteng utama di tingkat tapak. Kecerobohan kecil dapat memicu bencana asap yang merusak kesehatan warga serta merugikan perekonomian daerah," tegas Wahrul Fauzi Silalahi, Kamis (13/8/2026).
Post a Comment