JAKARTA — Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi salah satu lompatan teknologi paling berpengaruh dalam sejarah industri media. AI kini mampu menyusun naskah, merangkum dokumen kompleks, hingga memproduksi artikel dalam hitungan detik.
Namun, efisiensi dan kecepatan mesin tersebut menyimpan tantangan serius bagi masa depan jurnalisme. Produksi berita yang bertumpu pada otomasi tanpa proses verifikasi dan penyuntingan memadai berisiko mengikis keakuratan, mengabaikan konteks, serta mengancam kepercayaan publik.
Rendahnya Kepercayaan Publik pada Berita Olahan Mesin
Temuan riset Reuters Institute menunjukkan adanya jarak kenyamanan (comfort gap) yang lebar pada pembaca media digital. Hanya sekitar 12 persen responden yang merasa nyaman membaca artikel berita yang seluruhnya diproduksi oleh AI.
Sebagian besar masyarakat tetap menginginkan kehadiran wartawan manusia sebagai penjamin akurasi, verifikator data, dan penanggung jawab etika editorial.
Jurnalis media daring, Kandar, menegaskan bahwa secanggih apa pun teknologi berkembang, prinsip dasar profesi wartawan tidak boleh tergeser.
"Keakuratan data, objektivitas, verifikasi berimbang, serta pemenuhan unsur 5W+1H harus tetap menjadi fondasi utama. Setiap jurnalis memiliki 'seni' yang tidak bisa digantikan oleh kecerdasan buatan," ujar Kandar, Senin (27/7/2026).
Seni Menulis, Intuisi, dan Empati yang Tak Dimiliki Mesin
Menurut Kandar, "seni" dalam karya jurnalistik lahir dari akumulasi pengalaman lapangan, kepekaan sosial, intuisi, serta kemampuan mengolah fakta mentah menjadi narasi yang bernilai bagi publik.
Ketergantungan berlebihan pada otomasi AI berisiko mengikis daya kritis, naluri investigasi, dan empati pers terhadap dinamika kemanusiaan.
Layanan AI: Unggul dalam kecepatan pengolahan teks, kompilasi data, dan efisiensi teknis.
Peran Jurnalis: Memiliki rasa empati, analisis independen, kepekaan etis, serta naluri jurnalistik di lapangan.
Menjadikan AI Alat Bantu, Bukan Pengganti Nurani
Kandar mengingatkan agar para insan pers tidak kehilangan identitas profesinya. AI idealnya diposisikan sebagai instrumen pendukung untuk meningkatkan efisiensi redaksi, bukan pengambil alih proses berpikir dan berkreasi.
"Mesin bisa merangkai kalimat dengan cepat, tetapi tidak memiliki empati, intuisi, dan naluri kemanusiaan. Jangan sampai seni menulis berita terotomatisasi sepenuhnya, sebab jika itu terjadi, kedalaman narasi dan etika jurnalistik akanut pudar," pungkasnya.
Pada akhirnya, integritas, kedalaman makna, dan kepatuhan pada Kode Etik Jurnalistik (KEJ) tetap menjadi benteng utama dalam menjaga kepercayaan publik terhadap pers di era digital.
Post a Comment