Maling Ayam Tewas Dipersekusi Massa, Maling Uang Rakyat Bebas Tersenyum: Wajah Ketimpangan Hukum KITA



TABANAN — Sebuah rekaman video memperlihatkan tangis histeris seorang anak perempuan di samping jenazah ayahnya mendadak viral dan mengoyak nurani publik. Pria berinisial KD, warga Desa Sidatapa, Buleleng, mengembuskan napas terakhir usai menjadi korban amuk massa di Baturiti, Tabanan, Bali, Jumat (24/7/2026) dini hari.

KD dituduh mencuri seekor ayam aduan. Tanpa proses pembuktian hukum, amarah kolektif massa langsung bertindak sebagai hakim sekaligus algojo: menganiaya korban hingga tewas dan membakar sepeda motor miliknya.

Peristiwa tragis ini memantik sorotan tajam terkait potret buram penegakan hukum di Indonesia, di mana keadilan jalanan sering kali menargetkan mereka yang lemah secara ekonomi dan sosial.

Pencuri Kecil Dihakimi Jalanan, Koruptor Dilindungi Benteng Hukum

Tragedi ini menghadirkan kontras yang menyengat ketika disandingkan dengan penanganan kasus-kasus korupsi skala besar. Di saat terduga pencuri barang bernilai ratusan ribu rupiah tewas dalam hitungan jam di jalanan, para pelaku tindak pidana korupsi yang merugikan negara hingga miliaran dan triliunan rupiah kerap mendapatkan perlakuan yang jauh lebih terukur.

Kejahatan keuangan yang berdampak langsung pada kualitas fasilitas publik, sekolah, hingga layanan kesehatan sering kali melewati proses hukum berbelit, vonis yang tak sebanding, hingga fasilitas pengawasan hukum yang longgar.

  • Pencurian Skala Kecil: Sering kali memicu tindakan main hakim sendiri (vogelvrij) tanpa ruang pembelaan formal akibat akumulasi emosi publik.

  • Kejahatan Kerah Putih (White-Collar Crime): Dilengkapi akses terhadap tim penasihat hukum, mekanisme banding yang panjang, serta perlindungan dari jejaring struktural.

Main Hakim Sendiri dan Anomali Rasa Keadilan Masyarakat

Fenomena tindak kekerasan massa tidak bisa dilepaskan dari menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap efektivitas sistem peradilan formal (distrust in law enforcement). Ketika masyarakat merasa saluran keadilan lambat dan tumpul, kekerasan jalanan kerap meletup secara acak.

Namun, keprihatinan mendasar terletak pada fakta bahwa amuk massa hampir selalu menargetkan kelompok rentan yang tak berdaya secara finansial maupun politik.

"Video tangisan anak korban menjadi pengingat keras bahwa sistem hukum dan sosial kita masih menyimpan ketimpangan mendasar. Keadilan sejati menuntut kesetaraan perlakuan hukum (equality before the law) tanpa memandang status sosial maupun besaran nilai kejahatan," tulis rilis opini redaksi.

Peristiwa di Tabanan ini mendesak kepolisian untuk tidak hanya mengusut tuntas para pelaku pengeroyokan hingga tewas, tetapi juga menjadi evaluasi menyeluruh terhadap perlindungan hak asasi warga negara dari aksi main hakim sendiri.

Post a Comment

Previous Post Next Post