Sektor Pariwisata Sumbang Rp53 Triliun untuk Pertumbuhan Ekonomi Lampung


BANDAR LAMPUNG
– Sektor pariwisata resmi bertransformasi menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi baru (new engine of growth) yang menopang fondasi pembangunan makro Provinsi Lampung. Melalui penetrasi promosi berbasis ekosistem digital, pembenahan sasis infrastruktur destinasi, dan kolaborasi multipihak, Bumi Ruwa Jurai mencatatkan lonjakan kunjungan wisatawan yang signifikan sekaligus memperkokoh posisinya dalam jajaran rupa-rupa destinasi unggulan di tingkat nasional.

Arah kebijakan pembangunan yang diorkestrasi Pemerintah Provinsi Lampung menempatkan pariwisata bukan sekadar industri hiburan, melainkan instrumen strategis sirkular untuk mendongkrak Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), menyerap ratusan ribu tenaga kerja, serta menumbuhkan klaster usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar kawasan wisata.

Indikator keberhasilan ini tecermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat volume perjalanan wisatawan nusantara dan mancanegara ke Lampung menembus angka 24.702.664 perjalanan. Grafik ini merepresentasikan lonjakan tajam sebesar 53,50 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, sekaligus menempatkan Lampung sebagai daerah dengan pertumbuhan kunjungan tertinggi di Pulau Sumatera dengan kontribusi regional mencapai 13,26 persen.

Rekor Perputaran Uang: Sektor Wisata Sumbang 6 Persen PDRB Lampung

Dampak sirkular dari ledakan kunjungan ini langsung menyuntikkan likuiditas besar ke dalam perekonomian domestik. Nilai perputaran ekonomi yang dihasilkan dari aktivitas pariwisata secara agregat menyentuh angka Rp53,11 triliun. Angka ini merupakan rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir yang secara struktural menyumbang hampir 6 persen terhadap PDRB Lampung atas dasar harga berlaku.

Suntikan modal tersebut dipicu oleh tingginya belanja modal wisatawan, di mana rata-rata pengeluaran pelancong diperkirakan mencapai Rp2,15 juta per kunjungan. Belanja agregat ini menjadi bahan bakar utama yang menghidupkan ekosistem usaha masyarakat, khususnya lebih dari 3.000 UMKM yang bergerak di sektor kuliner, kerajinan tangan, transportasi, hingga jasa penginapan rakyat di berbagai kabupaten dan kota.

Agregasi Tenaga Kerja dan Stimulus Okupansi Sektor Perhotelan

Efek pengganda (multiplier effect) dari industri pariwisata ini juga menjadi bantalan sosial yang kuat di sektor ketenagakerjaan daerah. Lini pariwisata dan ekonomi kreatif terbukti mampu menyerap lebih dari 254 ribu tenaga kerja, baik di sektor formal maupun informal. Serapan tenaga kerja ini berjalan beriringan dengan pulihnya geliat industri perhotelan, di mana Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang merangkak naik ke posisi 48,93 persen dan hotel nonbintang berada di angka 25,60 persen.

Di lajur destinasi hulu, daya tarik Lampung diperkuat oleh rupa-rupa klaster wisata kelas dunia yang tersebar secara geografis. Taman Nasional Way Kambas di Lampung Timur tetap menjadi magnet wisata konservasi gajah Sumatera, disusul keindahan bawah laut Pulau Pahawang di Kabupaten Pesawaran, serta destinasi selancar internasional Pantai Tanjung Setia di pesisir barat.

Guna menjaga keberlanjutan tren positif ini, Pemprov Lampung terus mematangkan draf promosi digital yang agresif dengan menggandeng para content creator serta mempercepat reformasi tata kelola destinasi berbasis pariwisata berkelanjutan yang ramah lingkungan. (***)

Post a Comment

Previous Post Next Post