Mantan Gitaris Awal Tass Band Bangun Jejak Baru di Dunia Kreatif dan Media

Lampung – Nama Tass Band mungkin tak asing bagi penikmat musik Indonesia era 1990-an. Band rock alternatif yang dikenal melalui lagu "Lelah" ini hadir dengan karakter musikal yang berbeda di tengah dominasi musik rock bercorak gitar distorsi pada masanya.

Di balik perjalanan itu, terdapat sosok Ipung, gitaris awal Tass Band, yang kini dikenal dengan nama Russel Ray Basori.

Dalam sebuah penuturan, Russel mengenang bahwa lagu Lelah merupakan karya cipta Syamsul. Saat proses kreatif berlangsung, Tass Band sengaja menghadirkan nuansa gitar akustik sebagai identitas musikal yang membedakan mereka dari tren musik rock saat itu.

"Saat itu tren gitar berkarakter metal sedang sangat kuat. Kami memilih pendekatan akustik agar musik Tass Band memiliki warna sendiri," ujar Russel Ray Basori.

Bagi Russel, keputusan tersebut bukan sekadar persoalan teknis, melainkan bagian dari pencarian identitas bermusik yang menjadi ciri khas Tass Band.

Berkarya Melintasi Berbagai Dunia Kreatif

Perjalanan Russel tidak berhenti di dunia musik. Setelah melewati masa bersama Tass Band, ia mengembangkan kiprahnya di bidang desain visual dan branding, dengan fokus pada pengembangan identitas merek melalui desain logo dan komunikasi visual.

Kini, Russel juga dikenal sebagai CEO jaringan media digital di Lampung yang menaungi sejumlah media online, antara lain Undercover Channel, Indonesia Connected, Konsumsi Publik, MRO, Gelombang.id, Nusa News, Reputasi, Arunika, dan Arus Utama.

Menurutnya, musik, desain, dan media memiliki satu kesamaan: menyampaikan pesan yang mampu membangun karakter dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menjaga Jejak Sejarah Tass Band

Meski hingga saat ini belum ada agenda reuni, Russel berharap perjalanan Tass Band tetap terdokumentasikan sebagai bagian dari sejarah musik Indonesia.

"Yang terpenting bukan sekadar reuni, tetapi bagaimana cerita dan karya Tass Band tetap bisa dikenang dan menjadi bagian dari dokumentasi musik Indonesia," katanya.

Bagi Russel, setiap karya memiliki nilai sejarah. Dokumentasi yang baik menjadi cara untuk menghargai proses kreatif yang pernah dilalui sekaligus menjadi referensi bagi generasi berikutnya.

Post a Comment

Previous Post Next Post