Bidik Tiket Nasional: Andalkan Sasis BUMDes Ayam Petelur Penopang Program MBG, Karang Pucung Dinilai Tim Provinsi


WAY SULAN – Langkah Desa Karang Pucung, Kecamatan Way Sulan, Kabupaten Lampung Selatan, untuk mengulang memori kejayaan di panggung sirkuit nasional kian mendekati kenyataan. Berbekal rekam jejak mentereng sebagai Juara III Nasional tahun 2018, desa ini resmi dinilai oleh Tim Klarifikasi Lapangan Lomba Desa/Kelurahan Tingkat Provinsi Lampung Tahun 2026 untuk memperebutkan tiket emas menuju meja hijau penilaian pusat, Kamis (25/6/2026).

Hadir langsung mengawal proses verifikasi di Aula Desa Karang Pucung, Wakil Bupati Lampung Selatan M. Syaiful Anwar menegaskan bahwa draf portofolio pembangunan di wilayahnya menolak sekadar menjadi pajangan seremonial demi mengejar tropi juara. Eksistensi Karang Pucung dinilai sukses mengonstruksi draf transformasi sirkular yang seimbang antara penguatan ekonomi makro rural, modernisasi pelayanan publik, dan ketahanan pangan secara mandiri.

“Keberhasilan hakiki dari Desa Karang Pucung ini bukan sekadar deretan gelar juara di atas kertas, melainkan kemampuannya melakukan lompatan transformasi pembangunan desa yang berkelanjutan. Inilah pengejawantahan dari draf pemikiran Program Desa HELAU menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Syaiful Anwar taktis di hadapan tim penilai.



Inovasi Kandang Digital BUMDes: Suplier Utama Program Makan Bergizi Gratis

Mengangkat draf tema besar “Transformasi Desa dan Kelurahan sebagai Pilar Ketahanan Nasional Menuju Indonesia Emas 2045”, Desa Karang Pucung memamerkan juknis inovasi unggulan yang berkelindan langsung dengan program strategis nasional. Motor penggerak utamanya bertumpu pada revitalisasi fungsional Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karang Pucung.

Melalui sasis kemitraan finansial bersama Bank Lampung, BUMDes setempat sukses mengonstruksi unit usaha peternakan ayam petelur berskala produktif yang berbasis adopsi teknologi mekanisasi modern. Draf lompatan bisnis ini tidak hanya mempertebal pundi-pundi Pendapatan Asli Desa (PADes), melainkan diposisikan secara fungsional sebagai rantai pasok utama (main supplier) untuk menyuplai kebutuhan bahan baku telur lokal dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah terluar Lampung.

Syaiful merinci bahwa paradigma pembangunan sasis perdesaan di Lampung Selatan kini telah bergeser dari yang semula hanya fokus pada pengerasan sasis infrastruktur fisik jalan dan jembatan, kini melebar ke arah digitalisasi tata kelola administrasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pemuda tani, serta mitigasi pelestarian lingkungan melalui Program Desa HELAU (Hijau, Elok, Lestari, Aman, dan Unggul).

Wajah Lampung Ada di Desa: Akselerasi Hilirisasi Pertanian Inklusif

Sinyal positif atas draf inovasi Karang Pucung turut dilemparkan oleh Ketua Tim Penilai Lomba Desa Tingkat Provinsi Lampung, Slamet Riyadi. Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, dan Transmigrasi (PMDT) Provinsi Lampung tersebut menegaskan bahwa indikator kemajuan makro Bumi Ruwa Jurai secara mutlak ditentukan oleh draf kemakmuran masyarakat di tingkat tapak desa.

“Sesungguhnya rupa dan wajah asli Provinsi Lampung itu tercermin di desa-desa kita. Jika entitas desanya maju dan mandiri, maka secara otomatis potret Lampung juga akan ikut melesat di tingkat nasional. Kolaborasi pentahelix menjadi harga mati,” cetus Slamet berbobot.

Guna memangkas jurang fluktuasi kesenjangan antara wilayah urban dan rural, Pemerintah Provinsi Lampung di bawah kepemimpinan tahun 2026 terus memacu Program Desaku Maju melalui pemerataan jaringan konektivitas digital dan infrastruktur dasar. Lebih dari itu, Slamet mendorong desa-desa di Lampung Selatan untuk berani mengeksekusi sasis hilirisasi pertanian berbasis inklusif agar komoditas pangan lokal memiliki nilai tambah ekonomi tinggi di pasar ritel, sekaligus menciptakan draf lapangan pekerjaan baru guna menahan laju urbanisasi generasi muda ke kota-kota besar. (***)

Post a Comment

Previous Post Next Post