Faktor Fundamental Kuat, DPD ARUN Lampung Ajak Masyarakat Optimistis Hadapi Gejolak Rupiah

 


BANDAR LAMPUNG – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa pekan terakhir dinilai belum berada pada level yang mengkhawatirkan. Ketua Bidang Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (OKK) DPD ARUN Lampung, Ardho Adam Saputra SE, menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih cukup kuat untuk meredam gelombang tekanan ekonomi global dan tensi geopolitik internasional yang terus meningkat.

Menurut Ardho, gejolak nilai tukar merupakan fenomena global yang turut melanda hampir seluruh negara di kawasan Asia, bahkan beberapa di antaranya mengalami dampak yang jauh lebih besar ketimbang Indonesia. Optimisme terhadap daya tahan ekonomi nasional ini didukung oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen pada kuartal pertama 2026. Angka ini menjadi indikator kuat bahwa kebijakan ekonomi kerakyatan mulai memberikan dampak nyata di lapangan.

Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta pemanfaatan bahan baku lokal dan pasar domestik terbukti menjadi tulang punggung yang kokoh bagi stabilitas nasional. Ardho menjelaskan bahwa program-program strategis seperti Koperasi Merah Putih hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) sukses menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang mendongkrak perputaran uang dan menjaga daya beli masyarakat, baik di kawasan pedesaan maupun perkotaan.

Daya tahan ini diperkuat dengan capaian neraca perdagangan Indonesia yang mencatat surplus kumulatif sebesar 5,55 miliar dolar AS pada kuartal pertama tahun ini. Di sisi lain, langkah Bank Indonesia (BI) dalam mengintervensi pasar melalui instrumen kebijakan moneter—mulai dari operasi pasar terbuka, cadangan wajib minimum, hingga kebijakan suku bunga—dinilai sudah berada di koridor yang tepat untuk menjaga keseimbangan nilai tukar.

Meskipun lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah berpotensi menggerus devisa negara dari sektor impor energi, pemerintah dinilai telah memiliki langkah proteksi yang taktis. Implementasi program BBM B50, hilirisasi energi, serta pengembangan energi terbarukan menjadi strategi krusial untuk menekan ketergantungan impor. Ardho mengimbau masyarakat agar tidak panik berlebihan dan tetap percaya pada arah kebijakan ekonomi kerakyatan yang diproyeksikan mampu membawa Indonesia menjadi negara yang jauh lebih kuat pada tahun 2030 mendatang.

Post a Comment

Previous Post Next Post