Ratusan Siswa dan Guru SMAN 6 Bandar Lampung Alami Gejala Keracunan, Operasional Dapur SPPG Waylunik Dihentikan


BANDAR LAMPUNG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Bandar Lampung kembali menuai sorotan tajam. Sebanyak 147 siswa dan 25 guru SMAN 6 Bandar Lampung dilaporkan mengalami gejala sakit perut dan diare usai mengonsumsi makanan yang dipasok oleh Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Waylunik, Rabu (22/4/2026).

Menanggapi insiden tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) langsung mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara operasional dapur tersebut guna investigasi lebih lanjut.

Temuan Pelanggaran Standar Sanitasi Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, Muhtadi A. Temenggung, mengungkapkan bahwa hasil inspeksi mendadak di Dapur SPPG Waylunik menunjukkan adanya ketidaksesuaian standar operasional prosedur (SOP).

“Kami menemukan sejumlah persoalan serius, mulai dari sanitasi lingkungan hingga sistem pengolahan limbah yang belum optimal sesuai standar pengolahan makanan,” jelas Muhtadi, Jumat (24/4/2026). Meski demikian, pihak sekolah memastikan bahwa mayoritas korban hanya mengalami gejala ringan.

Rentetan Masalah MBG: Dari Makanan Basi hingga Tanpa Sertifikat Insiden di SMAN 6 ini menambah daftar hitam penyelenggaraan MBG di Bandar Lampung. Seminggu sebelumnya, SPPG Yayasan Alferdy Nusantara Barokah juga dilaporkan membagikan makanan basi kepada warga di 26 RT yang tersebar di 7 Posyandu Kelurahan Garuntang.

Ironisnya, diketahui bahwa SPPG tersebut belum mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) saat mulai beroperasi. Padahal, SLHS merupakan syarat wajib untuk menjamin keamanan pangan, terutama karena program ini menyasar kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Kompensasi dan Janji Perbaikan Pihak SPPG Yayasan Alferdy Nusantara Barokah mengakui adanya keterlambatan distribusi yang menyebabkan makanan tidak layak konsumsi. Sebagai bentuk tanggung jawab, warga yang menerima makanan basi dijanjikan kompensasi berupa dua paket menu baru.

“Kami akan memperketat pengawasan kualitas makanan, mulai dari rasa, suhu, hingga tekstur sebelum didistribusikan ke masyarakat agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar perwakilan pihak pengelola, Akbar Sunjaya.

Kejadian ini memicu kekhawatiran besar di kalangan orang tua dan warga. Masyarakat berharap pemerintah melakukan evaluasi total terhadap seluruh vendor penyedia MBG untuk memastikan keamanan dan kualitas gizi tetap terjaga demi kesehatan anak bangsa.

Post a Comment

Previous Post Next Post