Refleksi Nuzulul Qur’an, Bupati Radityo Egi Pratama Pimpin Iktikaf Akbar dan Ajak Masyarakat Perkuat Kedekatan Spiritual di Masjid Agung




KALIANDA, 16 Maret 2026 – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Agung Lampung Selatan pada Kamis malam (12/3), saat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan menggelar peringatan Nuzulul Qur’an yang dirangkaikan dengan Iktikaf Akbar. Acara ini menjadi momentum istimewa bagi jajaran pimpinan daerah dan masyarakat untuk melakukan refleksi mendalam di tengah keberkahan bulan suci Ramadan.

Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, bersama jajaran Forkopimda, pejabat teras Pemkab, serta tokoh lintas organisasi keagamaan seperti MUI, NU, Muhammadiyah, LDII, dan GP Ansor.

Iktikaf: Jeda dari Urusan Dunia Dalam sambutannya yang menyentuh sisi filosofis, Bupati Egi menekankan bahwa iktikaf adalah sarana penting bagi manusia untuk mengevaluasi perjalanan hidupnya. Di tengah rutinitas pemerintahan yang padat, ia mengajak seluruh jemaah untuk sejenak berhenti dan fokus pada perbaikan batin.

“Iktikaf adalah cara kita ‘berpulang’ ke diri sendiri. Sering kali kita terlalu sibuk mengurus urusan dunia yang tiada habisnya. Inilah waktu terbaik untuk menjemput rida Allah SWT dan menyadari bahwa setiap perjalanan kita berada dalam ketentuan-Nya,” ungkap Bupati Egi di hadapan jemaah.

Masjid Sebagai Pusat Peradaban Lebih dari sekadar tempat salat, Bupati Egi memaparkan visinya untuk menjadikan Masjid Agung Lampung Selatan sebagai pusat peradaban. Ia berharap masjid ini menjadi ruang publik yang inklusif untuk diskusi intelektual dan pertukaran gagasan demi kemajuan daerah.

Doa untuk Keamanan Daerah Iktikaf Akbar yang dimulai pada pukul 01.00 WIB dini hari tersebut diisi dengan doa bersama. Bupati Egi mengajak masyarakat untuk bersama-sama “melangitkan” doa agar Kabupaten Lampung Selatan senantiasa dilindungi dari marabahaya dan dilimpahi keberkahan.

Menariknya, Bupati menegaskan bahwa agenda Iktikaf Akbar ini bukanlah instruksi top-down dari pemerintah, melainkan wujud akomodasi atas aspirasi para tokoh agama dan masyarakat.

“Ini bukan semata-mata ide Bupati. Saya hanya menampung masukan dari para tokoh agama. Ini dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat Lampung Selatan,” tegasnya mengakhiri sambutan.

Rangkaian acara ditutup dengan zikir dan doa yang membawa suasana penuh keakraban antara pemimpin dan rakyat di bawah kubah Masjid Agung.

Post a Comment

Previous Post Next Post