Ketegangan Global Memuncak: Iran Tolak Mentah-Mentah Tawaran Dialog Donald Trump di Tengah Gempuran Rudal



TEHERAN, 3 Maret 2026 – Pemerintah Iran secara resmi membantah klaim Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut bahwa Teheran bersedia membuka pintu negosiasi untuk menghentikan perang. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menegaskan bahwa tidak ada langkah baru maupun rencana perundingan dengan Washington, baik secara langsung maupun melalui mediator.

Bantahan ini muncul setelah Donald Trump mengklaim kepada media The Atlantic bahwa pihak Iran ingin berbicara dengannya dan ia telah menyetujui pertemuan tersebut.

Kritik Keras Terhadap Kebijakan "Israel First" Melalui platform media sosial X, Larijani melancarkan kritik tajam terhadap Donald Trump. Ia menuduh Trump telah mengorbankan tentara Amerika demi ambisi kekuasaan Israel, serta mengubah slogan "America First" menjadi "Israel First".

“Dia (Trump) sekarang khawatir akan kerugian lebih lanjut dari tentara AS. Dengan delusinya sendiri, ia telah menyeret pasukan dan keluarga mereka untuk menanggung akibat dari serangkaian kebohongan,” tegas Larijani, Selasa (3/3).

Dampak Serangan Gabungan dan Aksi Balasan Eskalasi ini dipicu oleh serangan militer gabungan AS dan Israel pada Sabtu, 28 Februari 2026, yang dilaporkan menargetkan pejabat senior di Teheran. Menanggapi hal tersebut, Iran meluncurkan gelombang serangan drone dan rudal masif yang menyasar Tel Aviv serta pangkalan militer AS di negara-negara Teluk.

Laporan terkini mengenai dampak konflik meliputi:

  • Korban di Pihak AS: Tiga personel militer dilaporkan tewas dan lima lainnya luka serius.

  • Kondisi di Israel: Sedikitnya sembilan warga tewas di Tel Aviv akibat bombardir rudal, dengan banyak korban luka yang masih tertimbun reruntuhan bangunan.

  • Eskalasi Berlanjut: Iran menyatakan akan terus membombardir target strategis hingga tujuan mereka tercapai.

Ketidakpastian Diplomasi Internasional Penolakan Larijani juga sekaligus membantah laporan The Wall Street Journal yang menyebutkan adanya upaya komunikasi melalui Oman. Dengan tewasnya sejumlah pejabat tinggi dalam serangan Sabtu lalu, posisi Iran saat ini terlihat lebih memilih jalur konfrontasi militer daripada meja diplomasi.

Dunia internasional kini menyoroti potensi perluasan konflik yang dapat melibatkan negara-negara tetangga di kawasan Teluk, mengingat pangkalan militer AS yang menjadi target berada di wilayah kedaulatan negara-negara tersebut.

Post a Comment

Previous Post Next Post