BANDAR LAMPUNG – Pemerintah Provinsi Lampung bergerak cepat memberikan solusi atas kondisi puluhan pelajar di Desa Kali Pasir dan Tanjung Tirto, Kecamatan Way Bungur, Lampung Timur, yang setiap harinya harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai menggunakan rakit untuk bersekolah.
Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menginstruksikan pembangunan Jembatan Merah Putih sebagai solusi darurat sekaligus langkah konkret akses pendidikan bagi masyarakat setempat. Pembangunan ini dilakukan melalui kolaborasi strategis antara Pemerintah Provinsi Lampung dengan Pangdam II/Sriwijaya (Korem 043/Gatam).
Kolaborasi Strategis dengan TNI
Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Provinsi Lampung, M. Taufiqullah, menjelaskan bahwa keterlibatan TNI melalui skema jembatan darurat merupakan langkah penanganan cepat mengingat tingginya risiko keamanan di lokasi tersebut.
"Alhamdulillah, saat ini sudah diprioritaskan melalui program Jembatan Merah Putih. Pak Gubernur langsung yang berkomunikasi dan meminta bantuan kepada Pangdam. Kami melibatkan TNI karena kondisi medan yang berisiko tinggi dan membutuhkan penanganan lapangan yang cepat serta terukur," ujar Taufiqullah di Bandar Lampung, Selasa (3/2/2026).
Estimasi Jembatan Permanen Capai Rp70 Miliar
Taufiq mengungkapkan bahwa pembangunan jembatan permanen di atas Sungai Batanghari tersebut sejatinya membutuhkan anggaran yang sangat besar, yakni mencapai Rp70 miliar. Anggaran tersebut diperlukan agar infrastruktur yang dibangun benar-benar kokoh dan memenuhi standar keselamatan teknis secara utuh.
"Pemerintah Kabupaten Lampung Timur sebenarnya sudah menghitung kebutuhan tersebut, namun karena keterbatasan fiskal daerah, proyek ini tidak bisa ditangani secara mandiri. Anggaran sebesar itu krusial untuk menyambung akses pendidikan bagi sekitar 90 pelajar di sana," tambahnya.
Intervensi Pemerintah Pusat dan Target Penyelesaian
Melihat urgensi tersebut, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal sejak awal masa jabatannya telah mengambil langkah proaktif dengan menyurati Pemerintah Pusat. Menindaklanjuti permohonan tersebut, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) telah melakukan survei teknis.
Hasil survei menyimpulkan bahwa jembatan lama tidak memungkinkan untuk diperbaiki secara parsial (sebagian). Risiko longsor dan faktor keselamatan membuat opsi rehabilitasi dinilai tidak layak, sehingga jembatan harus dibangun total dari titik awal.
"Pak Gubernur sudah mengupayakan berbagai jalur sejak awal menjabat. Alhamdulillah, Jembatan Merah Putih ini menjadi solusi nyata. Kami menargetkan pembangunan selesai pada Semester pertama tahun 2026 ini," tegas Taufiq.
Imbauan untuk Masyarakat
Menutup keterangannya, Taufiqullah meminta masyarakat untuk tetap bersabar dan memberikan dukungan selama proses pengerjaan berlangsung.
"Ini sudah menjadi prioritas utama pemerintah. Kami mohon doa dan kesabaran masyarakat karena ada proses birokrasi dan teknis yang harus dilalui demi hasil yang aman dan berkualitas," pungkasnya.
Post a Comment