LAMPUNG SELATAN, 5 Januari 2026 – Kondisi ruas jalan raya yang menghubungkan pertigaan Ratu Dibalau, Way Huwi (Lampung Selatan) menuju Jalan Ryacudu, Sukarame (Bandar Lampung) kian memprihatinkan. Kerusakan berupa lubang-lubang dalam di sepanjang jalur vital tersebut memicu kekhawatiran warga akan terjadinya kecelakaan lalu lintas, terutama bagi pengendara roda dua.
Sebagai bentuk protes sekaligus upaya antisipasi mandiri, warga setempat terpaksa memasang tanda peringatan seadanya di titik-titik lubang paling berbahaya.
Kondisi Lapangan: "Jebakan" di Tengah Jalan
Pantauan di lapangan menunjukkan kerusakan paling parah terlihat di depan Rumah Sakit Airan Raya. Lubang dengan kedalaman bervariasi menganga tepat di tengah badan jalan. Kondisi ini sangat berisiko bagi pengendara yang melintas, terlebih saat malam hari atau ketika hujan turun.
Warga menandai lubang-lubang tersebut menggunakan kayu, plastik merah putih, hingga ember berisi semen agar terlihat oleh pengguna jalan.
"Terutama pas hujan, lubang tertutup genangan air. Kalau orang yang nggak biasa melintas di situ pasti terjebak. Ini sangat bahaya dan harus segera diperbaiki," keluh Yuda, salah seorang warga yang setiap hari melintasi jalur tersebut.
Tudingan Proyek "Asal Jadi"
Kepala Desa Way Huwi, Muhammad Yani, menegaskan bahwa ruas jalan tersebut merupakan wewenang Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung. Ia menyayangkan pola perbaikan yang selama ini dilakukan karena dinilai tidak bertahan lama.
Menurut Yani, kerusakan berulang terjadi karena kualitas perbaikan tambal sulam yang buruk.
"Itu jalan Pemprov. Setiap musim hujan aspalnya pasti rusak karena pengerjaan tambal sulamnya asal jadi. Akibatnya, aspal kembali mengelupas begitu terkena air hujan," ungkapnya, Minggu (4/1/2026).
Desakan Perbaikan Permanen
Mengingat jalur ini merupakan akses utama menuju gerbang tol dan penghubung dua wilayah (Bandar Lampung - Lampung Selatan), warga mendesak Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Provinsi Lampung untuk:
Melakukan Perbaikan Permanen: Bukan sekadar tambal sulam yang mudah rusak kembali.
Peningkatan Kualitas Drainase: Agar air hujan tidak menggenang di badan jalan yang menjadi penyebab utama kerusakan aspal.
Penerangan Jalan: Menambah lampu jalan di titik-titik rawan agar lubang terlihat saat malam hari.
Hingga saat ini, warga masih mempertahankan "rambu darurat" tersebut sebagai pengingat bagi pengendara agar ekstra waspada saat melintasi jalur Way Huwi–Ryacudu.
Post a Comment