Bandar Lampung Berduka: Dua Bocah Tewas Terseret Arus dalam Sepekan, Orang Tua Diminta Siaga Satu di Musim Hujan

 



BANDAR LAMPUNG – Musim penghujan di Kota Bandar Lampung memakan korban jiwa. Dalam kurun waktu hanya lima hari, dua bocah laki-laki berusia 8 tahun dilaporkan tewas tenggelam akibat terseret arus air di lokasi yang berbeda. Rentetan tragedi ini memicu keprihatinan mendalam dan menjadi peringatan darurat bagi keselamatan anak-anak di lingkungan pemukiman.

Kronologi Tragedi di Way Awi dan Rajabasa

  1. Sabtu, 17 Januari 2026 (Jagabaya): Abdul Rosyid Asady (8) tewas tenggelam di aliran sungai Way Awi, Kecamatan Way Halim. Korban terjun ke sungai berkedalaman 1,5 meter untuk mengambil kelereng yang terjatuh. Arus sungai yang deras akibat hujan membuat korban terjebak dalam pusaran air. Meski sempat dievakuasi warga ke Puskesmas Kampung Sawah, nyawa putra dari anggota Linmas Kelurahan Sawah Brebes ini tidak tertolong.

  2. Selasa, 13 Januari 2026 (Rajabasa): Adiyatma Dzaki Ardani (8) ditemukan meninggal dunia setelah terseret arus drainase di Jalan Bhayangkara, Kelurahan Rajabasa Raya. Korban terpeleset ke dalam selokan saat mencoba mengambil botol ketika sedang asyik bermain hujan-hujanan.

Imbauan Keamanan bagi Masyarakat

Melihat pola kejadian yang melibatkan anak-anak saat bermain di dekat aliran air, pemerintah kecamatan dan tokoh masyarakat setempat mengeluarkan imbauan tegas kepada para orang tua di seluruh wilayah Bandar Lampung:

  • Pengawasan Ekstra: Melarang keras anak-anak bermain di luar rumah saat hujan deras, terutama di dekat selokan, drainase, atau pinggiran sungai.

  • Waspada Benda Jatuh: Mengedukasi anak-anak agar tidak mencoba mengambil benda (mainan, botol, kelereng) yang terjatuh ke aliran air yang deras.

  • Siaga Pusaran Air: Menyadari bahwa arus sungai saat musim hujan memiliki tenaga yang jauh lebih kuat dan berbahaya dibandingkan kondisi normal.

Evaluasi Infrastruktur dan Lingkungan

Camat Tanjungkarang Timur, Dedi Saputra, dan Camat Rajabasa, Rachmatsyah, menekankan pentingnya kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga lingkungan. Warga diminta segera melaporkan jika menemukan titik drainase yang tidak memiliki pengaman atau sungai yang mengalami pendangkalan/pusaran berbahaya agar dapat dilakukan mitigasi dini.

"Kejadian ini adalah duka kita bersama. Kami memohon doa bagi para keluarga yang ditinggalkan dan meminta seluruh warga untuk saling menjaga anak-anak kita. Jangan sampai kecerobohan kecil berujung maut di tengah musim hujan ini," ujar Dedi Saputra.

Post a Comment

Previous Post Next Post