BANDAR LAMPUNG, 30 Desember 2025 – Pemerintah Provinsi Lampung mendorong keterlibatan aktif mahasiswa dan kaum santri sebagai motor penggerak ekonomi daerah dan penjaga pilar kebangsaan. Hal ini ditekankan dalam acara Istighosah untuk Keselamatan Bangsa yang digelar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Lampung di Pondok Pesantren Madarijul ‘Ulum, Bandar Lampung, Minggu (28/12/2025).
Mewakili Gubernur Lampung, Kepala Dinas Kominfotik Provinsi Lampung, Ganjar Jationo, menegaskan bahwa kombinasi tradisi intelektual mahasiswa dan spirit keagamaan santri adalah kekuatan strategis bagi masa depan Indonesia.
Tradisi Keilmuan sebagai Modal Strategis
Dalam pidato kuncinya, Ganjar mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan buah dari pemikiran para kaum pergerakan. Oleh karena itu, kader PMII dan keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) wajib menjaga tradisi keilmuan sebagai benteng menghadapi tantangan global.
"Mahasiswa adalah kekuatan strategis. Bangsa ini merdeka karena kekuatan ilmu dan gagasan. Spirit keagamaan keluarga santri adalah modal besar untuk masa depan Indonesia dan Lampung," ujar Ganjar di hadapan Pengasuh Ponpes Madarijul ‘Ulum, Dr. KH Ihya Ulumuddin.
Hilirisasi Pertanian: Menaikkan Pendapatan Petani 30%
Selain isu kebangsaan, Pemprov Lampung memaparkan langkah konkret Gubernur Lampung dalam memperkuat ekonomi pedesaan melalui kebijakan hilirisasi komoditas unggulan:
Intervensi Harga: Memperkuat harga gabah hingga Rp7.000 per kilogram (di atas standar nasional Rp6.500).
Penyediaan Fasilitas: Pengadaan bed dryer untuk meningkatkan kualitas gabah pascapanen agar harga di tingkat petani tetap stabil dan tinggi.
Nilai Tambah: Memastikan gabah dan singkong diolah di dalam daerah (tidak keluar dalam bentuk bahan mentah) sehingga manfaat ekonomi berputar di Lampung.
Kebijakan ini dinilai tepat sasaran mengingat 70% penduduk Lampung bermukim di desa dan terdapat sekitar 1,2 juta petani yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini.
Waspada Dampak Negatif Digitalisasi
Di hadapan ratusan kader PMII, Ganjar juga memberikan peringatan keras terkait keamanan digital. Literasi digital dinilai sebagai "perisai" bagi mahasiswa dan santri di era teknologi.
"Teknologi itu alat, sangat bergantung pada akhlak penggunanya. Saya berharap kader PMII mampu menangkal dampak negatif seperti judi online dan pinjaman online ilegal, serta menjadikan ruang digital sebagai sarana dakwah yang cerdas," pungkasnya.

Post a Comment