Kementerian Kebudayaan Wacanakan Peningkatan Status Gedung Koleksi Pugung Raharjo Menjadi Museum Nasional

Lampung Timur, 23 November 2025 – Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, mewacanakan peningkatan status Gedung Koleksi Pugung Raharjo di Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur, menjadi museum. Wacana ini diungkapkan setelah Menteri meninjau langsung koleksi dan kawasan Situs Cagar Budaya Nasional tersebut pada Jumat (21/11/2025) lalu.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai bahwa koleksi yang tersimpan di Gedung Koleksi Pugung Raharjo memiliki nilai sejarah yang sangat penting, mencakup prasasti, arca, punden berundak, hingga berbagai artefak megalitik.

“Di sini banyak koleksi luar biasa. Ke depan, bukan hanya gedung koleksi, tapi akan kita kembangkan menjadi Museum Pugung Raharjo,” ujar Fadli Zon.

Penataan Menyeluruh dan Pembentukan Ekosistem Budaya

Menteri menjelaskan bahwa pengembangan museum akan dilakukan secara bertahap. Ia menekankan bahwa artefak yang tersimpan memiliki signifikansi tinggi dan perlu ditata ulang agar lebih terkelola, terpelihara, dan mudah diakses publik.

"Saya melihat artefaknya penting semua. Wilayah ini juga sangat luas, puluhan hektare. Jika aktivitas budaya semakin diaktifkan, ekosistemnya akan terbentuk," tambahnya.

Pemerintah berkomitmen melakukan penataan menyeluruh di kawasan situs, mencakup aspek pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, hingga pembinaan. Tujuannya adalah menjadikan Situs Pugung Raharjo sebagai pusat edukasi dan kegiatan budaya yang lebih hidup.

Situs Pugung Raharjo: Jejak Sejarah Tiga Masa

Situs Pugung Raharjo merupakan salah satu dari empat cagar budaya nasional di Provinsi Lampung. Lokasi yang ditemukan transmigran pada tahun 1957 ini menyimpan peninggalan dari tiga periode masa peradaban:

  1. Megalitik (sekitar 2500 SM).

  2. Klasik (Hindu-Buddha).

  3. Islam.

Di area seluas 30 hektare tersebut, ditemukan berbagai artefak penting seperti keramik Dinasti Tiongkok, manik-manik, dolmen, menhir, arca tipe Polynesia, serta 13 punden berundak, termasuk benteng parit primitif sepanjang 1,2 km. Secara geologi, struktur peninggalan ini unik karena banyak menggunakan batu lokal bertekstur kasar dari Formasi Sukadana.

Wacana peningkatan status menjadi museum ini diharapkan dapat meningkatkan pengelolaan warisan budaya dan menjadikannya destinasi wisata unggulan yang edukatif di Lampung.

Post a Comment

Previous Post Next Post