Gubernur Lampung Dorong Petani Singkong Beralih ke Jagung dan Padi Gogo





Bandar Lampung – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong petani singkong di sejumlah daerah untuk mulai beralih menanam jagung dan padi gogo. Menurutnya, dua komoditas tersebut lebih strategis karena dijamin pemerintah, dilarang impor, serta memiliki potensi hilirisasi yang luas.

“Harga gabah padi dan jagung sudah dijamin pemerintah, impor dilarang, dan nilai tambah hilirisasinya besar. Karena itu lebih baik kita fokus mengembangkan komoditas tersebut,” kata Gubernur Mirza usai Rapat Koordinasi Pembangunan Pertanian Provinsi Lampung di Balai Keratun, Kamis (11/9/2025).
Kendala Ketersediaan Air

Meski demikian, Mirza mengakui kendala terbesar dalam peralihan dari singkong ke jagung dan padi gogo adalah persoalan air.
“Kalau petani pindah ke jagung atau padi gogo, masalahnya ada di air. PLN tadi juga hadir, mereka siap membantu menghadirkan listrik untuk pompa air di daerah yang jauh dari irigasi,” jelasnya.

Adapun wilayah yang disasar untuk alih komoditas adalah sentra singkong, seperti Lampung Utara, Lampung Timur, Lampung Tengah, dan Mesuji. Pemerintah Provinsi Lampung juga menyiapkan skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) guna mendukung pembiayaan dari hulu ke hilir.
Harga Singkong Anjlok

Gubernur Mirza menyinggung soal anjloknya harga singkong dan tepung tapioka akibat derasnya impor. Harga tepung tapioka merosot dari Rp8.000 per kilogram pada 2024 menjadi sekitar Rp4.500 per kilogram pada 2025.
“Sekarang harga singkong juga turun karena industri lebih memilih tepung tapioka impor. Padahal 70 persen tepung tapioka digunakan untuk industri kertas,” ujarnya.

Ia menambahkan, meski Kementerian Pertanian melalui Ditjen Tanaman Pangan telah menetapkan harga singkong Rp1.350 per kilogram secara nasional, penerapannya di lapangan masih memerlukan koordinasi lintas kementerian.

“Ini bukan hanya urusan daerah, tapi lintas kementerian. Ada Kementerian Perdagangan, Pertanian, dan Perindustrian yang harus mempercepat regulasi,” tegas Mirza.
Pemerintah Tak Akan Memaksa

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (KPTPH) Lampung, Elvira Umihanni, menilai pemilihan komoditas harus mempertimbangkan kondisi lahan dan ketersediaan air.
“Singkong relatif lebih tahan kekurangan air, sementara jagung dan padi gogo butuh lahan subur serta air yang cukup,” jelasnya.

Elvira menegaskan pemerintah tidak akan memaksa petani yang tetap memilih menanam singkong. Pola kemitraan dengan industri tetap dijalankan, termasuk mendorong perguruan tinggi dan balai pelatihan memperkuat kapasitas penyuluh melalui sekolah lapangan.

“Petani akan diarahkan menanam varietas sesuai kebutuhan industri, sementara penyuluh didorong untuk terus mendampingi mereka di lapangan,” pungkasnya.

Post a Comment

Previous Post Next Post