Buka Akses Anak Putus Sekolah, 304 Siswa Ikuti Program SMA Terbuka di 15 Kabupaten/Kota Se-Lampung


 BANDAR LAMPUNG — Program SMA Terbuka resmi diterapkan di Provinsi Lampung sebagai langkah nyata Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung dalam membuka kembali akses pendidikan bagi anak-anak yang sempat terhenti atau putus sekolah. Pada tahun pertama pelaksanaannya, program ini langsung diikuti oleh 304 calon siswa yang tersebar di 15 sekolah induk di 15 kabupaten/kota se-Provinsi Lampung.

Ratusan peserta didik tersebut telah rampung mengikuti rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang diselenggarakan oleh masing-masing sekolah induk pada akhir Agustus 2026.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung, Thomas Amirico, mengonfirmasi bahwa pelaksanaan MPLS di seluruh lokasi penunjukan berjalan tertib dan lancar tanpa hambatan teknis.

"Untuk sekolah terbuka sudah berjalan. Sudah MPLS kemarin di akhir bulan Agustus. Alhamdulillah berjalan lancar ya MPLS-nya di masing-masing sekolah yang kita tunjuk. Antusiasmenya luar biasa, di tahun pertama ada 304 siswa yang mengikuti MPLS," ujar Thomas Amirico, Rabu (2/9/2026).

Metode Belajar Fleksibel dan Pembelajaran Adaptif

Thomas menjelaskan bahwa mayoritas peserta program ini merupakan anak-anak usia sekolah yang sebelumnya sempat putus sekolah selama beberapa tahun atau tidak dapat melanjutkan ke jenjang menengah atas karena keterbatasan ekonomi dan tuntutan pekerjaan.

Oleh karena itu, tata kelola SMA Terbuka dirancang khusus agar berbeda dari pola sekolah reguler. Waktu belajar dibuat sangat fleksibel sehingga peserta dapat menuntut ilmu tanpa perlu meninggalkan aktivitas pekerjaan harian mereka.

Dari segi metode, kegiatan belajar-mengajar mengombinasikan sistem dalam jaringan (daring) sebagai moda utama, didukung pembelajaran tatap muka berkala melalui mekanisme guru tamu. Tempat belajar tatap muka pun tidak kaku di ruang kelas, melainkan dapat disepakati bersama di rumah warga, balai desa, atau fasilitas publik terdekat.

"Mayoritas dia daring, kemudian ada guru tamu. Guru tamu yang nanti datang di tempat yang mereka sepakati, di mana proses pembelajarannya, bisa saja di sekolah, di rumah warga, atau di balai desa. Jadi sangat adaptif dengan kebutuhan siswa," kata Thomas.

Rincian Data Siswa dan Hasil Verifikasi

Berdasarkan data Disdikbud Lampung, sebanyak 304 siswa SMA Terbuka tersebut terdistribusi di 15 sekolah induk:

  • SMAN 1 Terusan Nunyai (Lampung Tengah): 37 siswa

  • SMAN 1 Kotaagung (Tanggamus): 33 siswa

  • SMAN 1 Padang Cermin (Pesawaran) & SMAN 1 Kalirejo (Lampung Tengah): Masing-masing 30 siswa

  • SMAN Way Jepara (Lampung Timur): 30 siswa

  • SMAN 1 Jati Agung (Lampung Selatan): 26 siswa

  • SMAN 2 Pringsewu: 24 siswa

  • SMAN 1 TBT (Tulang Bawang Barat): 19 siswa

  • SMA Terbuka 6 Bandar Lampung: 17 siswa

  • SMAN 1 Liwa (Lampung Barat): 14 siswa

  • SMAN 1 Batanghari (Lampung Timur): 12 siswa

  • SMAN Terbuka Banjar Agung (Tulang Bawang) & SMAN 1 Baradatu (Way Kanan): Masing-masing 9 siswa

  • SMAN 1 Kotabumi (Lampung Utara): 8 siswa

  • SMAN 1 Kalianda (Lampung Selatan): 6 siswa

Meski demikian, pihak Disdikbud menegaskan bahwa data penerimaan bersifat dinamis karena proses verifikasi berkas terus dilakukan guna memastikan ketepatan sasaran program. Beberapa calon siswa di Jati Agung dan Kalianda dinyatakan tidak memenuhi kualifikasi karena telah lulus sekolah kejuruan/Paket C, bekerja di luar daerah, atau masih terdaftar sebagai siswa aktif di sekolah lain.

Disdikbud Lampung berharap suksesnya tahun pertama pelaksanaan SMA Terbuka ini menjadi pemantik (pemicu) bagi anak-anak usia sekolah lainnya di seluruh kabupaten/kota untuk kembali mendaftarkan diri pada gelombang selanjutnya.

Post a Comment

Previous Post Next Post