BANDAR LAMPUNG – Sirkuit pelestarian adat dan penguatan identitas kultural di bumi Ruwa Jurai terus mendapat panggung strategis di lingkar birokrasi pemerintahan. Jajaran kepengurusan Pendekar Banten Silat dan Seni Debus Surosowan Provinsi Lampung secara resmi melakukan sirkuit pengukuhan dengan menyematkan Baju Kebesaran Jawara kepada Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Lampung, Dr. Marindo, S.T., M.M., sebagai Dewan Pembina organisasi.
Prosesi sakral dan khidmat tersebut dilaksanakan langsung di kompleks Kantor Gubernur Lampung, Jalan R.W. Monginsidi, Telukbetung, Kota Bandar Lampung. Agenda ini dihadiri oleh jajaran fungsionaris teras pemprov serta disaksikan oleh para tokoh adat, sesepuh budaya, dan segenap pendekar dari berbagai kabupaten/kota.
Ketua Umum Pendekar Banten Lampung menegaskan bahwa sirkuit penyematan atribut jawara ini bukanlah sebuah seremonial kosong demi memburu legitimasi kekuasaan. Langkah ini merupakan bentuk sasi penghormatan tertinggi sekaligus peletakan amanah besar di pundak otoritas birokrasi untuk merawat, membentengi, dan menghidupkan kembali marwah seni bela diri warisan leluhur.
“Kami secara resmi menetapkan Dr. Marindo sebagai Dewan Pembina. Beliau adalah sosok birokrat yang memiliki rekam jejak kepedulian tinggi terhadap sirkuit kebudayaan. Atribut baju kebesaran ini memuat tanggung jawab moral fungsional untuk menjaga kehormatan jawara, melestarikan orisinalitas Debus Surosowan, serta menyinergikannya dengan sirkuit pembangunan daerah,” tegas Ketua Umum Pendekar Banten Lampung.
Kembalikan Fitrah Seni Debus: Berbasis Dzikir dan Pengabdian Rakyat
Menerima sasi amanah kebudayaan tersebut, Sekdaprov Lampung Dr. Marindo menyatakan rasa syukur sekaligus kesiapannya untuk mengawal eksistensi organisasi di tengah gempuran modernisasi digital. Menurut Marindo, seni Debus Surosowan tidak boleh mengalami sengketa degradasi makna yang hanya mengeksploitasi atraksi fisik demi hiburan semata.
Ia mendesak jajaran pengurus untuk mengembalikan khitah pergerakan pendekar pada nilai-nilai filosofis fundamental, yakni sebagai instrumen olahraga dan olah rasa yang berlandaskan pada sirkuit kekuatan dzikir, keteguhan spiritualitas, kedisiplinan tinggi, serta pengabdian tanpa pamrih kepada masyarakat.
“Saya menerima baju kebesaran ini murni sebagai instrumen amanah baku, bukan alat kemuliaan pribadi. Tantangan kita ke depan adalah mengorkestrasikan nilai-nilai keberanian dan spiritualitas jawara ini agar tetap fungsional memperkuat rajutan persatuan warga serta membentengi sirkuit identitas budaya daerah Lampung,” ungkap Marindo penuh khidmat.
Konsolidasi Menuju Penampilan Kolosal di Krakatau Festival 2026
Momentum pengukuhan di sirkuit birokrasi ini dinilai para pengamat budaya memiliki nilai taktis makro. Langkah ini bergerak simultan dengan sirkuit konsolidasi internal Pendekar Banten Lampung yang tengah mematangkan sirkuit persiapan jelang perhelatan akbar pariwisata daerah, yakni Krakatau Festival 2026.
Dalam kalender event pariwisata tahunan tersebut, jajaran pendekar dan jawara Debus Surosowan diproyeksikan bakal menghentak panggung utama lewat sirkuit penampilan kolosal berskala nasional. Sinergi lintas sektoral ini diharapkan mampu menggaet fluktuasi kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara, sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif di sektor seni pertunjukan.
Guna memastikan sirkuit dukungan operasional berjalan mulus, acara pengukuhan ini turut dihadiri secara lengkap oleh para kepala badan dan dinas pemprov, di antaranya Kepala Badan Kesbangpol, Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Dinas Kominfotik, Kepala Bappeda, serta Kepala Bagian Umum Provinsi Lampung.
Dari sirkuit internal organisasi, tampak hadir mendampingi di antaranya Wakil Ketua Nurdin R., S.H., Dewan Penasihat Rahmad Solihin, Ketua Balam Heri, serta Sekretaris Ilham beserta ratusan anggota korps jawara. (***)
Post a Comment