TANGGAMUS – Setelah sempat terperangkap dalam fase vakum berdurasi panjang, sasis Program Adiwiyata atau Gerakan Peduli dan Berbudaya Lingkungan Hidup di Sekolah (PBLHS) di hulu Kabupaten Tanggamus resmi dinyatakan bangkit kembali. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tanggamus bergerak taktis mengeksekusi sirkuit validasi lapangan secara langsung terhadap klaster sekolah dasar dan menengah yang membidik predikat Sekolah Adiwiyata tingkat kabupaten untuk kalender anggaran 2026.
Grafik antusiasme institusi pendidikan dasar di Bumi Begawi Jejama tercatat melonjak tajam pasca-reaktivasi program ini. Bersandarkan data hulu aplikasi, sebanyak 186 satuan pendidikan setingkat SD/MI dan SMP/MTs dilaporkan telah melompat masuk mengunci draf pendaftaran via aplikasi SIDIA (Sistem Informasi Adiwiyata). Kendati mayoritas pendaftar masih berfluktuasi dalam fase registrasi administrasi, pergerakan ini mengonfirmasi sinyal positif kembalinya kesadaran ekologis komunal.
Kepala Bidang Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup DLH Tanggamus, Gunawan, mewakili Kepala DLH Kemas Amin Yuspi, membongkar fakta bahwa saat ini sudah ada tujuh sekolah pionir yang berkasnya dinyatakan lolos sensor hulu dan telah tuntas menjalani sirkuit verifikasi fisik di lapangan.
Tujuh sekolah penggerak tersebut meliputi SDN 1 Way Jaha, SMPN 2 Pugung, SD Fransiskus Gisting, SDN 3 Gisting Atas, SD IT Teladan Kotaagung, SMPN 1 Gisting, dan SMPN 1 Sumberejo.
Menguliti Sasis 24 Indikator dan 5 Aspek Utama Penilaian
Guna memastikan objektivitas penilaian dan memotong ruang spekulasi, DLH Tanggamus menerapkan sasis penilaian ketat yang diikat oleh 24 indikator strategis. Seluruh indikator tersebut secara fungsional didistribusikan ke dalam empat komponen utama kebijakan, yakni regulasi internal sekolah, kurikulum proses pembelajaran, aksi partisipatif komunal, serta pemenuhan sasis sarana prasarana pendukung.
Gunawan menjelaskan secara hitam di atas putih bahwa eksekusi dari 24 indikator tersebut wajib menyentuh dan linear dengan lima aspek fundamental tata kelola lingkungan, yaitu:
Sanitasi Total: Menjaga kebersihan sirkuit drainase dan fasilitas sanitasi biologis.
Reduksi Sampah: Implementasi nyata manajemen pengelolaan dan pemilahan sampah organik serta non-organik.
Keanekaragaman Hayati: Optimalisasi draf penghijauan dan konservasi flora di lingkungan sekolah.
Konservasi Air: Penerapan sasis penghematan serta teknologi pemanenan air hujan.
Efisiensi Energi: Pembudayaan aksi penghematan daya listrik secara berkelanjutan.
“Berdasarkan draf evaluasi sementara di sirkuit lapangan, rupa-rupa sekolah yang divalidasi sejatinya telah mengadopsi gerakan peduli lingkungan secara praktis. Namun, draf kelemahan klasik mayoritas terletak pada sasis tertib administrasi dan dokumentasi data yang masih perlu diperbaiki. Kami mengonfirmasi sudah mengantongi beberapa nama sekolah yang berpotensi kuat mengunci draf surat keputusan predikat Adiwiyata Kabupaten,” urai Gunawan taktis, Sabtu (13/6/2026).
Potong Salah Kaprah: Adiwiyata Bukan Lomba Mempercantik Fisik Sekolah
Lebih lanjut, Gunawan menguliti tantangan terbesar yang dihadapi tim pembina daerah, yakni memotong salah kaprah atau stigma laten di tengah wali murid dan guru yang mengasumsikan Adiwiyata sebagai ajang kontes kecantikan fisik sekolah yang berbiaya mahal. Ketakutan akan fluktuasi biaya operasional dekorasi ini dituding menjadi penyebab utama keengganan sekolah mendaftar di masa lalu.
DLH menegaskan secara fungsional bahwa esensi tertinggi dari Adiwiyata bukan terletak pada kemewahan fasilitas fisik pendukung, melainkan pada ketebalan sasis edukasi dan internalisasi karakter peduli lingkungan yang tertanam pada psikologis peserta didik secara jangka panjang.
Guna memastikan pembudayaan tersebut tidak berfluktuasi sesaat atau hanya muncul sebagai kosmetik saat tim penilai merapat ke lokasi, DLH Tanggamus mematok skema monitoring rutin. Evaluasi periodik akan dikunci berdasarkan draf program kerja satu tahunan hingga empat tahunan yang disusun mandiri oleh komite sekolah.
Bagi sekolah yang sukses mengamankan predikat jawara di level kabupaten, DLH berjanji akan memberikan draf karpet merah berupa pendampingan intensif untuk didelegasikan bertarung memperebutkan penghargaan Adiwiyata di sasis nasional. (***)
Post a Comment