Lautan Massa di PKOR: Sekdaprov Marindo Pimpin Nobar Piala Dunia 2026, Sukses Hidupkan Nostalgia TVRI dan Geliat Ekonomi PKL



BANDAR LAMPUNG – Kawasan Pusat Kegiatan Olahraga (PKOR) Way Halim dikepung lautan massa. Menindaklanjuti instruksi hulu dari pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Lampung bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) sukses mendepolys panggung hiburan rakyat berupa nonton bareng (nobar) putaran final Piala Dunia 2026, Minggu (21/6/2026) malam.

Ajang pesta sepak bola sejagat yang disiarkan fungsional melalui lembaga penyiaran publik TVRI tersebut dihadiri langsung oleh Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Lampung, Ir. Marindo Kurniawan, S.T., M.M. Mewakili jajaran eksekutif, Marindo mematok momentum olahraga ini menolak sekadar menjadi sasis tontonan rekreatif, melainkan harus dikonversi menjadi motor penggerak persatuan horizontal sekaligus pemantik perputaran logistik pelaku usaha mikro di Bandar Lampung.

“Sesuai arahan juknis pemerintah pusat, Pemprov Lampung memfasilitasi sirkuit nobar gratis ini di ruang terbuka publik agar dapat diakses tanpa barikade tarif oleh seluruh lapisan masyarakat. Kolaborasi makro bersama TVRI ini sengaja kita deploy untuk menghadirkan hiburan yang sehat, aman, dan menyatukan,” urai Marindo Kurniawan taktis di tengah gemuruh ratusan penonton.

Sentuhan Nostalgia LPP TVRI: Merajut Kembali Tradisi Tontonan Pemersatu Keluarga

Di sela-sela riuhnya yel-yel suporter, Sekdaprov Marindo menguliti secara berbobot adanya dimensi sosiologis dan nilai nostalgia yang kental di balik penunjukan TVRI sebagai sasis utama penyiaran. Dirinya merefleksikan rekam jejak historis stasiun televisi pertama di Indonesia tersebut yang sejak dekade silam konsisten bertindak fungsional sebagai media pemersatu bangsa.

Langkah Pemprov Lampung menghidupkan kembali budaya menonton televisi bersama di ruang terbuka (open-air screening) diposisikan sebagai oase kultural di tengah gempuran era disrupsi digital yang cenderung membuat masyarakat bergerak individualistis dengan gawai masing-masing.

Melalui layar lebar premium yang dipasang di pelataran PKOR, sasis kebersamaan komunal antarwarga lintas generasi berhasil dirajut kembali dalam suasana yang kondusif.

PKOR Way Halim Jadi Etalase Pasar Malam: Ratusan Pelapak UMKM Panen Grafik Untung

Di lajur hilir, fluktuasi kehadiran penonton yang memadati area PKOR Way Halim dimanfaatkan secara cerdas oleh Pemprov Lampung untuk menggerakkan sasis ekonomi kerakyatan. Dinas teknis terkait melonggarkan barikade juknis lokasi agar ratusan pelaku UMKM lokal, pedagang kaki lima (PKL), hingga asosisasi asongan kuliner dapat nangkring menggelar lapak produk unggulan di sekitar sirkuit nobar.

Sinergi sirkular antara hiburan olahraga dan geliat perdagangan mikro ini memicu lompatan grafik pendapatan yang signifikan bagi para pedagang kecil:

  • Sektor Kuliner Tapak: Pedagang kopi keliling, minuman dingin, dan rupa-rupa camilan tradisional melaporkan draf omzet harian mereka melonjak tajam hingga berlipat gawang dari hari biasa.

  • Optimalisasi Ruang Publik: Pemilihan kawasan PKOR dinilai fungsional dan tepat sasaran karena sasis infrastrukturnya memang dirancang sebagai pusat rekreasi, olahraga, dan interaksi sosial makro masyarakat Lampung.

Rangkaian agenda nonton bersama ini dilaporkan terkunci dalam situasi yang aman, tertib, dan bersih hingga sirkuit peluit akhir pertandingan ditiup wasit. Output positif dari kolaborasi lintas sektoral ini mematangkan portofolio Lampung dalam mengelola kegiatan massa skala besar, sekaligus membuktikan bahwa sepak bola mampu menjadi instrumen birokrasi yang efektif untuk mendongkrak ketebalan ekonomi rakyat kecil Bumi Ruwa Jurai. (***)

Post a Comment

Previous Post Next Post