Jaga Warisan Leluhur, Empat Objek Bersejarah Diusulkan Jadi Cagar Budaya Lampung Timur 2026

 


SUKADANA – Pemerintah Kabupaten Lampung Timur mengambil langkah progresif dalam memayungi aset historis daerah. Melalui jajaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Pemkab menggelar Sidang Rekomendasi Penetapan dan Pemeringkatan Cagar Budaya tingkat kabupaten yang dipusatkan di Aula Utama Setdakab Lampung Timur, Jumat (22/5/2026).

Agenda krusial tersebut dibuka secara resmi oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Lampung Timur, Rustam Effendi. Sidang ini turut mengundang tokoh-tokoh penting di bidang pelestarian sejarah, di antaranya Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Lampung Kuswanto, serta Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Provinsi Lampung, Anshori Djausal.

Dalam arahannya, Sekda Rustam Effendi menegaskan bahwa benda maupun situs peninggalan masa lalu bukan sekadar pajangan mati, melainkan memiliki peran mahapenting sebagai fondasi identitas daerah sekaligus akumulasi warisan sejarah yang tak ternilai bagi peradaban generasi mendatang.

"Cagar budaya merupakan identitas hakiki, saksi bisu perjalanan sejarah, dan warisan leluhur yang tidak ternilai bagi generasi penerus di Bumi Ruwa Jurai. Lampung Timur dianugerahi kekayaan peninggalan sejarah yang sangat epik dan beragam, membentang dari masa prasejarah, era klasik, hingga masa kemerdekaan," ujar Rustam Effendi.

Lebih lanjut, Rustam menjelaskan bahwa pemberian status ketetapan hukum formal di tingkat kabupaten menjadi urgen dilakukan. Hal ini sebagai langkah preventif negara guna melindungi objek-objek bernilai tinggi tersebut dari ancaman kerusakan, aksi penjarahan, maupun klaim sepihak dari korporasi.

Mengupas Rekam Jejak Empat Objek yang Diusulkan

Dalam sidang pemeringkatan tahun anggaran 2026 ini, terdapat empat Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) yang disodorkan untuk diverifikasi dan ditingkatkan statusnya menjadi Benda Cagar Budaya Peringkat Kabupaten:

  • Arca Gramadewata: Objek seni rupa kuno yang ditemukan pertama kali oleh warga pada tahun 1963 di kawasan Bukit Langkap, Kecamatan Sribhawono. Lokasi penemuan arca ini berada di bukit dengan ketinggian sekitar 175 meter di atas permukaan laut (mdpl), yang menjadi penanda geografis menonjol di wilayah tersebut.

  • Arca Perwujudan Bodhisattva: Mahakarya estetika yang diperkirakan berasal dari rentang abad ke-14 hingga ke-15 Masehi. Artefak berharga ini diekskavasi pada 14 Agustus 1957 di kawasan Punden Berundak 7, Situs Purbakala Pugung Raharjo. Penemuan ini mencerminkan adanya akulturasi dan kesinambungan budaya megalitik lokal yang berpadu dengan pengaruh kuat Hindu-Buddha.

  • Prasasti Bungkuk: Prasasti berbahan batu andesit yang ditemukan pada tahun 1985 di bantaran Sungai Way Sekampung, Kecamatan Jabung. Prasasti ini dipahat menggunakan guratan Aksara Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno, yang mengindikasikan kuat adanya pengaruh dominasi politik Kerajaan Sriwijaya di wilayah Lampung kuno.

  • Prasasti Dalung Bojong: Artefak logam berbahan dasar tembaga yang dibuat secara resmi pada tahun 1691 Masehi di masa kejayaan Kesultanan Banten. Lembaran prasasti ini memuat dokumen hukum penting mengenai tata kelola birokrasi pemerintahan, aturan pelayaran, serta monopoli niaga komoditas lada di tanah Lampung.

Dorong Konsep Wisata Sejarah Berbasis Edukasi

Sekda Rustam Effendi menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas kerja keras Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) bersama dinas teknis yang secara maraton melakukan kajian akademik, penelusuran riwayat, hingga peninjauan fisik terhadap keempat objek bernilai tinggi tersebut.

Pihak Pemkab Lampung Timur menargetkan, pasca-terbitnya keputusan bupati mengenai penetapan cagar budaya ini, objek-objek tersebut tidak sekadar disimpan di ruang steril, melainkan dikembangkan secara profesional menjadi destinasi wisata sejarah berbasis edukasi.

"Saya mengetuk hati dan mengajak seluruh elemen masyarakat, kalangan akademisi, pemerhati sejarah, dan seluruh jajaran pemerintah daerah untuk bergotong-royong menjaga kelestarian cagar budaya ini. Khususnya untuk anak-anak muda generasi Gen-Z sebagai pewaris peradaban, kenali sejarah daerahmu agar kita tidak kehilangan arah di masa depan," pungkas Sekda Rustam Effendi. 

Post a Comment

Previous Post Next Post