BANDAR LAMPUNG – Tekanan harga di Provinsi Lampung kembali mengalami peningkatan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi year on year (y-on-y) pada April 2026 berada di angka 0,53 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) di level 110,93.
Statistisi Ahli Muda BPS Lampung, M. Sabiel Adi Prakasa, menjelaskan bahwa laju inflasi terjadi karena adanya kenaikan indeks harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya tercatat menjadi salah satu pendorong tertinggi dengan tingkat inflasi mencapai 8,07 persen.
Kenaikan juga terjadi pada kelompok transportasi serta penyediaan makanan dan minuman atau restoran yang masing-masing sebesar 1,82 persen. Diikuti oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau (1,66 persen); perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (1,38 persen); pakaian dan alas kaki (0,63 persen); serta kesehatan (0,33 persen).
"Inflasi terjadi karena dominasi kenaikan indeks pada sebagian besar kelompok pengeluaran," ujar Sabiel, Senin (4/5/2026).
BPS merinci sejumlah komoditas yang memberikan andil paling dominan terhadap inflasi April 2026, di antaranya:
Emas perhiasan: 0,45 persen
Daging ayam ras: 0,24 persen
Beras: 0,14 persen
Minyak goreng: 0,10 persen
Mobil: 0,08 persen
Selain itu, beberapa komoditas seperti telur ayam ras, angkutan udara, ikan-ikanan, dan sewa rumah turut memberikan andil pada kenaikan harga. Di sisi lain, terdapat beberapa kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi, seperti rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,07 persen, serta sektor pendidikan yang turun tajam hingga 17,97 persen.
Adapun komoditas yang berhasil menahan laju inflasi atau memberikan andil deflasi antara lain bawang merah, bawang putih, cabai merah, tomat, bensin, serta berbagai kebutuhan pendidikan. Sementara itu, untuk inflasi month to month (m-to-m) April 2026 tercatat sebesar 0,55 persen, dan inflasi year to date (y-to-d) mencapai 1,04 persen, yang menandakan tekanan harga terus berlangsung sejak awal tahun.
Post a Comment