Dijamin Anggota DPRD Wahrul Fauzi Silalahi, Mbah Mujiran dan Nur Wahid Resmi Hirup Udara Bebas



LAMPUNG SELATAN – Isak tangis haru mewarnai Lapas Kelas IIA Kalianda saat Mbah Mujiran dan Nur Wahid melangkah keluar dari pintu gerbang tahanan. Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Kalianda secara resmi mengabulkan permohonan pengalihan status penahanan terhadap kedua warga tersebut, setelah anggota DPRD Provinsi Lampung, Wahrul Fauzi Silalahi (WFS), pasang badan bertindak sebagai penjamin utama.

Keputusan hukum yang melegakan pihak keluarga ini ketuk palu setelah tim kuasa hukum dari Kantor Hukum WFS dan Rekan secara agresif melayangkan berkas permohonan pengalihan penahanan ke PN Kalianda pada Senin (25/5/2026). Respons cepat majelis hakim yang mengabulkan permohonan tersebut mengubah status hukum kedua tersangka dari tahanan lembaga pemasyarakatan menjadi tahanan kota. Walhasil, Mbah Mujiran dan Nur Wahid diperkenankan pulang ke rumah untuk berkumpul kembali bersama keluarga tercinta.

Wahrul Fauzi Silalahi tidak dapat menyembunyikan rasa harunya saat merangkul erat Mbah Mujiran sesaat setelah proses administrasi pembebasan rampung. Pria yang akrab disapa Kiai WFS ini menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas luluhnya hati majelis hakim melihat dimensi kemanusiaan dalam kasus ini.

“Alhamdulillah, perasaan kami sangat senang hari ini. Terima kasih kepada majelis hakim dan seluruh pihak yang terlibat. Yang paling penting dan utama saat ini adalah Pakde Mujiran bisa pulang, kembali ke rumah, dan bertemu dengan istri serta anak cucunya,” ungkap WFS dengan mata berkaca-kaca di halaman Lapas Kalianda, Senin sore.

Proses penjemputan dan pembebasan ini turut dikawal oleh sejumlah pejabat penting di daerah. Tampak hadir di lokasi Wakil Bupati Lampung Selatan M. Syaiful Anwar bersama jajaran, Sekretaris PTPN I Regional 7 Agus Faroni, perwakilan Kejaksaan Negeri (Kejari) Lampung Selatan, serta seluruh tim kuasa hukum.

Komitmen Merajut Harmonisasi Warga Penyangga dan PTPN

Pembebasan Mbah Mujiran yang sempat memantik empati publik ini diharapkan menjadi momentum evaluasi bersama, terutama terkait relasi antara masyarakat adat/penyangga dengan pihak korporasi perkebunan negara. WFS berharap ke depan ada formula kemitraan yang lebih humanis agar gesekan hukum serupa tidak perlu terulang kembali di masa depan.

“Kita doakan bersama semoga operasional PTPN ke depan bisa berjalan dengan baik dan lancar. Namun di sisi lain, masyarakat yang hidup di wilayah penyangga PTPN juga harus bisa menikmati keseimbangan kesejahteraan secara bersama-sama. Kedepan, harmonisasi seperti itulah yang kita harapkan bersama,” pinta legislator yang dikenal vokal membela hak rakyat kecil tersebut.

Saat disinggung oleh awak media mengenai alasan personalnya hingga berani mengambil risiko politik dan hukum menjadi penjamin pengalihan tahanan, WFS menegaskan bahwa langkah ini murni panggilan nurani dan kewajiban moral sebagai wakil rakyat.

“Ini sudah menjadi kewajiban dan pekerjaan saya di parlemen. Kalau ada masyarakat kecil yang membutuhkan bantuan hukum, kita wajib hadir dan bersedia membantu. Saya melihat sendiri ada ketulusan dari sorot mata Mbah Mujiran. Kasus ini terjadi murni karena faktor desakan kebutuhan hidup perut yang darurat, bukan karena dia memiliki rekam jejak atau hobi sebagai pencuri,” tegas WFS meluruskan pandangan publik.

Kerinduan Mbah Mujiran Pada Istri dan Cucu di Rumah

Sementara itu, dengan langkah kaki yang masih gemetar karena haru, Mbah Mujiran berulang kali menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih yang mendalam kepada seluruh jajaran pejabat dan tim penasihat hukum yang telah berjuang keras membebaskan dirinya dari dinginnya jeruji besi.

Sembari melempar senyum lebar kepada para jurnalis, lansia ini mengaku kondisinya dalam keadaan sehat dan telah diberikan makanan yang layak oleh tim penjemput sebelum menempuh perjalanan pulang ke kampung halaman. Kerinduan mendalam pada hangatnya rumah menjadi satu-satunya hal yang berkecamuk di pikirannya saat ini.

“Terima kasih atas seluruh perjuangan bapak-bapak pejabat, terima kasih banyak. Kondisi saya sehat, tadi juga sudah makan disiapkan pakai lauk ikan dan ayam. Sekarang saya sudah tidak sabar, ya sangat kangen sekali dengan istri dan cucu-cucu di rumah,” tutur Mujiran sembari menyeka air matanya. (Tim)

Post a Comment

Previous Post Next Post