LAMPUNG UTARA – Bagi para sopir truk pengangkut komoditas di Way Abung Tiga, setiap perjalanan bukan sekadar rutinitas mengantar barang, melainkan sebuah pertaruhan nyawa. Ruas jalan sepanjang 3 kilometer di Desa Pungguk Lama kini berubah menjadi jalur "ranjau" yang mengancam keselamatan dan isi kantong para pejuang jalanan.
Aspal yang telah lama sirna kini berganti dengan kubangan lumpur sedalam 20 hingga 40 centimeter. Lubang-lubang selebar kap mobil ini menjadi momok bagi angkutan singkong, jagung, dan sawit yang setiap hari menjadi nadi ekonomi daerah.
Antara Setoran dan Biaya Bengkel Suparman (nama samaran), seorang sopir truk singkong, menceritakan pengalamannya saat rodanya terperosok sedalam betis orang dewasa hingga muatannya tumpah sebagian. Beruntung, kendaraannya tidak terguling seperti belasan kecelakaan tunggal lainnya yang terjadi dalam enam bulan terakhir.
“Biaya derek dan perbaikan kaki-kaki itu jutaan. Jika sial, uang yang dibawa pulang bahkan tidak sampai separuh upah kotor setelah dipotong solar. Ongkos angkut tetap, tapi ongkos perbaikan naik terus karena jalan rusak,” keluh para sopir di lokasi, Selasa (29/4/2026).
Nadi Ekonomi yang Nyaris Putus Kondisi jalan ini berdampak domino pada efisiensi distribusi pangan. Perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu 30 menit kini membengkak menjadi lebih dari satu jam. Konsumsi solar boros, sementara ban dan komponen kendaraan seperti shockbreaker serta tie-rod menjadi langganan bengkel.
Warga menyebut perbaikan selama ini hanya bersifat "tambal sulam" menggunakan timbunan tanah dan batu sabun yang langsung amblas saat diguyur hujan. Kehadiran truk bermuatan berlebih (Over Dimension Over Loading/ODOL) dari perusahaan perkebunan turut mempercepat kerusakan jalan kabupaten tersebut.
Harapan pada Pemerataan Pembangunan Para sopir dan masyarakat Way Abung Tiga tidak menuntut fasilitas mewah seperti jalan tol. Mereka hanya mendambakan jalan yang rata dan bebas dari kubangan maut agar pengiriman hasil bumi ke pasar dan pabrik dapat berjalan lancar.
“Kami cuma minta jalan rata. Jangan sampai ada kawan yang masuk rumah sakit lagi hanya karena ingin mengejar setoran tapi malah kejeblos di jalan sendiri,” tegas para sopir. Hingga saat ini, warga masih menanti langkah nyata pemerintah daerah untuk melakukan perbaikan permanen pada jalur vital tersebut.
Post a Comment