BANDAR LAMPUNG — Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menegaskan bahwa kunci utama lonjakan ekonomi Lampung di tahun 2026 terletak pada percepatan hilirisasi sektor ekonomi kreatif (Ekraf). Hal ini disampaikan dalam diskusi strategis bersama Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, dan para pelaku ekraf di El’s Coffee Roastery, Minggu (15/2/2026).
Pemerintah Provinsi Lampung menargetkan pengolahan komoditas primer senilai Rp100 triliun yang selama ini masih keluar dalam bentuk mentah, agar dapat diolah melalui sentuhan kreativitas untuk meningkatkan nilai tambah hingga sepuluh kali lipat.
Tantangan 3.000 Merek: Dari Persaingan ke Kolaborasi
Gubernur Mirza memberikan catatan kritis terhadap fenomena 480 ribu UMKM di Lampung yang cenderung memproduksi produk serupa secara masif. Ia mencontohkan adanya 3.000 merek keripik singkong yang memicu persaingan harga di tingkat bawah.
“Kita butuh kolaborasi untuk kurasi. UMKM yang sudah Go Global harus membangun rantai pasok (supply chain) bagi pelaku di bawahnya. Kita ingin mereka bangkit bersama, bukan saling mematikan,” tegas Gubernur Mirza.
Dukungan Pusat: KUR Khusus Ekraf dan Dinas Baru
Menekraf Teuku Riefky Harsya merespons positif visi Lampung dengan menyiapkan sejumlah "tiket" akselerasi bagi para pelaku usaha kreatif:
Plafon KUR Khusus: Penyediaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Rp500 juta per pelaku usaha melalui kerja sama dengan kementerian terkait.
Penguatan Kelembagaan: Mendorong pembentukan Dinas Ekonomi Kreatif secara mandiri di tingkat Kabupaten/Kota guna mempercepat birokrasi.
Target Akselerator: Kementerian akan memfokuskan 80% energinya untuk mendorong National Champion asal daerah menuju panggung dunia.
Indikator Ekonomi & Pariwisata Lampung 2025-2026
| Indikator Ekonomi | Capaian 2025 | Proyeksi 2026 |
| PDRB Sektor Primer | Rp520 Triliun | Menghadapi Peningkatan Hilirisasi |
| Wisatawan Nusantara | 24 Juta Orang | Diprediksi Tumbuh 50% |
| Perputaran Uang Wisata | Rp40 Triliun | Menjadi Motor Baru Ekraf |
Optimisme "Local Hero" ke Kancah Global
Menekraf meyakini bahwa dengan akar budaya Lampung yang kuat, produk kreatif daerah ini mampu mengikuti jejak sukses industri kreatif dunia seperti Korea Selatan atau Jepang. Tugas kementerian adalah menemukan Local Hero di Lampung untuk dijadikan jagoan nasional dan internasional.
Sektor pariwisata yang tumbuh pesat, dengan kenaikan daya beli petani berkat kebijakan harga gabah dan jagung nasional, menjadi momentum emas bagi pelaku ekraf Lampung untuk memperbaiki kualitas produk dan manajemen rantai pasok agar lebih kompetitif di pasar global.
Post a Comment