LAMPUNG TIMUR – Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menegaskan bahwa penanganan konflik gajah dan manusia di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) kini memasuki babak baru. Lewat dialog "Gerakan Bersatu dengan Alam" yang digelar di Balai TNWK, Sabtu (24/1/2026), Gubernur memastikan mitigasi tidak lagi bersifat reaktif, melainkan terpadu dan berkelanjutan.
Pertemuan strategis ini dihadiri oleh jajaran Forkopimda lengkap, termasuk Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Kristomei Sianturi, Ketua DPRD Lampung Ahmad Giri Akbar, Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah, serta Kabinda Lampung.
Pembangunan Batas Kawasan Permanen
Gubernur Mirza mengungkapkan bahwa pemerintah akan segera membangun batas kawasan permanen sepanjang 60–70 kilometer. Langkah ini merupakan respons atas keluhan puluhan tahun dari masyarakat desa penyangga yang hidup dalam bayang-bayang konflik satwa liar.
Kajian Teknis: Tim teknis segera melakukan feasibility study untuk memastikan pembatas disesuaikan dengan kontur wilayah (rawa, sungai, dan tanah keras).
Keamanan Satwa: Infrastruktur dirancang ramah lingkungan agar tidak mengganggu jalur pergerakan alami gajah Sumatera.
Pelibatan Masyarakat: Mengingat keterbatasan jumlah polisi hutan (hanya 39 personel untuk 125.000 hektare), pemerintah akan membentuk Satgas Desa dan memperkuat kemitraan konservasi.
"Ini bukan acara seremonial. Kita datang untuk mendengar langsung karena masyarakatlah yang paling merasakan dampaknya. Way Kambas akan menjadi laboratorium kebijakan mitigasi berbasis ekologi dan kesejahteraan masyarakat," tegas Gubernur Mirza.
Sorotan Dunia dan Atensi Presiden
Gubernur mengungkapkan bahwa TNWK telah ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai proyek percontohan (pilot project) untuk 57 taman nasional di Indonesia. Isu ini bahkan menjadi salah satu poin pembicaraan strategis Presiden saat bertemu dengan Raja Charles III di Inggris.
Kompleksitas Way Kambas yang berbatasan langsung dengan permukiman padat penduduk (sekitar 800.000 jiwa) menjadikan keberhasilan program ini sebagai barometer nasional dalam menyeimbangkan perlindungan satwa dan keselamatan warga.
Dukungan Penuh TNI dan Harapan Warga
Pangdam II/Sriwijaya, Mayjen TNI Kristomei Sianturi, menegaskan kesiapan jajarannya dalam mendukung infrastruktur dan patroli secara humanis. "Prinsipnya, gajah tidak disakiti, masyarakat merasa aman," ujarnya.
Apresiasi juga datang dari para kepala desa penyangga. Suryanto, Kepala Desa Braja Harjosari, menyatakan bahwa kehadiran langsung Gubernur memberikan harapan baru bagi warga yang selama ini dihantui ketakutan dan kerugian ekonomi akibat rusaknya tanaman petani.
Post a Comment