Sisi Humanis Kunjungan Kerja Way Kambas: Gubernur Mirza Temui "Selebjah" Nisa dan Heti di Tengah Sosialisasi Mitigasi Konflik

 



LAMPUNG TIMUR – Di sela kunjungan kerjanya yang padat untuk membahas langkah konkret penanggulangan konflik satwa, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyempatkan diri berinteraksi dengan para "Selebriti Gajah" (Selebjah) di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Sabtu (24/1/2026).

Momen hangat tersebut terlihat saat Gubernur Mirza menemui Nisa dan ibunya Pleno, serta bayi gajah yang tengah viral, Heti, bersama induknya Yulia. Didampingi Ketua DPRD Lampung Ahmad Giri Akbar dan Pangdam XX/Raden Inten II Mayjen TNI Kristomei Sianturi, Gubernur tampak asyik berswafoto dan berdialog dengan para Mahout (pawang gajah).

Bukan Sekadar Swafoto: Memastikan Kesejahteraan Satwa

Kehadiran Gubernur Mirza di kandang gajah bukan hanya untuk berekreasi. Sembari berswafoto, ia secara detail menanyakan kondisi kesehatan dan kecukupan pakan para gajah kepada Mahout yang bertugas.

“Mau selfie sama Nisa,” ujar Gubernur Mirza dengan ceria sebelum melanjutkan diskusi serius mengenai kelestarian gajah Sumatera di habitat aslinya.

Menyerap Aspirasi di Balik Kebijakan Pagar Pengaman

Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian agenda menyerap aspirasi masyarakat desa penyangga TNWK. Gubernur Mirza menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya memperhatikan kesejahteraan gajah, tetapi juga keselamatan warga sekitar.

Berdasarkan masukan dari para Kepala Desa dan Camat, Gubernur Mirza menyoroti tiga tantangan utama:

  1. Geografis yang Beragam: Penanganan wilayah rawa dan non-rawa memerlukan pendekatan teknis yang berbeda.

  2. Keamanan Malam Hari: Warga meminta penambahan personel penjagaan untuk mengantisipasi gajah masuk ke permukiman.

  3. Batas Permanen: Tindak lanjut dari atensi Presiden RI terkait pembangunan pagar pengaman sepanjang puluhan kilometer.

Rencana Pagar Pengaman yang Ramah Satwa

Sebagai solusi jangka panjang, Gubernur menjelaskan bahwa survei teknis dari pemerintah pusat telah mulai dilakukan. Pagar pengaman yang direncanakan akan dirancang sedemikian rupa agar tetap "wildlife friendly".

"Kajian teknis harus matang. Kita tidak ingin pembangunan pagar ini justru mengganggu aktivitas alami gajah. Fokus kita adalah memisahkan kawasan TNWK dengan desa penyangga agar konflik yang sudah berlangsung puluhan tahun ini bisa berakhir dengan solusi yang menang-menang (win-win solution)," jelas Mirza.

Kunjungan yang diwarnai canda tawa bersama para gajah ini ditutup dengan komitmen kuat dari seluruh jajaran Forkopimda untuk menjadikan Way Kambas sebagai model nasional konservasi berbasis kemanusiaan dan ekologi.

Post a Comment

Previous Post Next Post