MapBiomas Indonesia melaporkan bahwa laju deforestasi di tiga provinsi di Sumatra—Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara—meningkat tajam hingga sekitar tiga kali lipat dalam kurun waktu 10 bulan terakhir hingga Oktober 2024. Lonjakan ini dinilai berkontribusi besar terhadap bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda kawasan tersebut, yang hingga 2 Desember 2025 telah merenggut 708 jiwa.
Team Leader MapBiomas Indonesia, Timer Manurung, menegaskan bahwa lonjakan ini menjadi peringatan keras agar perusakan hutan alam dihentikan dan fokus dialihkan untuk memulihkan daerah yang sudah rusak.
📈 Rincian Peningkatan Deforestasi di Tiga Provinsi
Berikut adalah perbandingan peningkatan deforestasi di ketiga provinsi tersebut dalam periode 10 bulan (sebelum Oktober 2024 hingga Oktober 2024):
1. Aceh: Kehilangan Hutan Tertinggi
Aceh dinobatkan sebagai salah satu provinsi dengan kehilangan hutan tertinggi.
Peningkatan Deforestasi: Dari semula di bawah 10.000 hektare (sebelum Oktober 2024) melonjak mendekati 30.000 hektare (hingga Oktober 2024).
Perubahan Tutupan Lahan (2014-2024): Luas hutan (Forest Formation) turun dari 3.413.709 hektare menjadi 3.395.970 hektare. Pada saat yang sama, perkebunan kelapa sawit (Oil Palm) meningkat signifikan, dari 455.250 hektare menjadi 628.697 hektare.
2. Sumatra Barat: Masuk Peringkat Empat Teratas
Sumatra Barat (sebelumnya tidak masuk 10 besar) kini menduduki peringkat keempat wilayah dengan laju deforestasi tertinggi dalam 10 bulan terakhir.
Peningkatan Deforestasi: Laju deforestasi bergerak dari sekitar 10.000 hektare menjadi hampir 30.000 hektare.
Perubahan Tutupan Lahan (2014-2024): Luas hutan berkurang dari 2.424.687 hektare menjadi 2.400.294 hektare. Perkebunan kelapa sawit juga meningkat dari 515.253 hektare menjadi 569.183 hektare.
3. Sumatra Utara: Kenaikan Tajam
Sumatra Utara juga menunjukkan tren peningkatan deforestasi yang tajam, hampir tiga kali lipat.
Peningkatan Deforestasi: Dari kisaran 7.000 hektare (awal 2024) meningkat tajam menjadi sekitar 17.000 hingga 18.000 hektare (dalam 10 bulan pertama tahun 2024).
Perubahan Tutupan Lahan (2014-2024): Perkebunan kelapa sawit meningkat dari 1.972.640 hektare menjadi 2.115.976 hektare.
⚠️ Kritik Terhadap Kebijakan Amnesti Kelapa Sawit
Lonjakan deforestasi ini terjadi di tengah berjalannya kebijakan pengampunan (amnesty) untuk perkebunan kelapa sawit ilegal seluas 3,3 juta hektare.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) menyoroti bahwa kebijakan amnesti ini turut berkontribusi pada laju deforestasi yang masif. Deputi Eksternal Eksekutif Nasional Walhi, Mukri Friatna, mencatat bahwa di Aceh saja, deforestasi periode 2015-2022 telah mencapai 130.743 hektare, sementara kemampuan pemerintah untuk memulihkan hutan sangat terbatas.

Post a Comment