Temuan Beras Berkutu di Gudang Bulog Lampung, Komisi IV DPR RI Minta Perhatian Serius Monitoring Stok dan Harga Pangan: Stok Aman, Daya Beli Menurun



Bandar Lampung, 11 September 2025 — Dua Anggota Komisi IV DPR RI, Irham Jafar Lan Putra dan Dwita Ria Gunadi, melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Lampung dalam rangka monitoring ketersediaan dan stabilitas harga pangan, khususnya beras, Kamis (11/9/2025).

Dalam kunjungannya ke Gudang Bulog Campang Raya, Sukabumi, Bandar Lampung, keduanya menemukan adanya kutu dalam stok beras impor yang masih tersimpan di gudang.


“Ini ada kutunya, kok bisa begini?” ujar Dwita Ria Gunadi saat meninjau langsung sampel beras impor yang diperlihatkan oleh pihak Bulog.

Stok beras impor tersebut berasal dari negara-negara seperti Pakistan, Thailand, dan Myanmar, dan merupakan hasil pengadaan tahun 2024.
Bulog Lampung Klarifikasi Soal Kutu

Menanggapi hal tersebut, Wakil Pimpinan Bulog Lampung, Erdi Bhaskoro menjelaskan bahwa total stok beras impor yang tersimpan di 15 gudang Bulog se-Lampung mencapai sekitar 29 ribu ton.


“Stok ini sudah jauh berkurang karena sebagian besar sudah didistribusikan untuk bantuan pangan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) serta program penjualan melalui Rumah Pangan Kita (RPK),” kata Erdi.

Ia juga menambahkan bahwa temuan kutu tersebut tidak dalam jumlah banyak, dan pihak Bulog secara rutin melakukan pengecekan kualitas beras. Sebelum disalurkan ke masyarakat, beras akan dibersihkan menggunakan blower dan dikemas ulang.


“Kualitas beras tetap aman dan layak konsumsi,” tegasnya.

Bulog juga tengah menyiapkan pengiriman sekitar 2.000 ton beras ke Provinsi Jambi dalam waktu dekat.
Distribusi dan Harga Beras SPHP

Manajer Operasional Bulog Lampung, Mei Rizal, menerangkan bahwa beras impor digunakan untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), dengan harga jual dari Bulog ke mitra RPK sebesar Rp55.000 per karung (isi 5 kg), atau Rp11.000 per kg.

RPK kemudian menjual ke masyarakat dengan harga berkisar antara Rp57.500 hingga Rp62.500 per karung.

Sementara itu, beras hasil penyerapan gabah petani lokal diproduksi menjadi beras premium dan dijual secara komersil seharga Rp14.800/kg. Di pasaran, harga beras premium saat ini berkisar antara Rp15.000 hingga Rp17.000 per kg.
Komisi IV Soroti Daya Beli Masyarakat

Dalam kesempatan tersebut, Irham Jafar menyampaikan bahwa hasil tinjauan ke lapangan menunjukkan bahwa stok beras di Lampung masih mencukupi dan harga relatif stabil, sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Namun, politisi PAN ini mengakui bahwa daya beli masyarakat cenderung menurun dalam beberapa waktu terakhir.


“Salah satu faktornya karena masyarakat sebelumnya mendapat bantuan beras 10 kg per KK per bulan. Ini membuat transaksi jual beli beras di pasar menurun,” ungkap Irham.
Kesimpulan

Komisi IV DPR RI meminta agar temuan seperti beras berkutu mendapat perhatian serius, demi menjaga kualitas bantuan pangan yang disalurkan ke masyarakat. Monitoring akan terus dilakukan guna memastikan ketersediaan dan stabilitas pangan nasional tetap terjaga.
Catatan Redaksi:



Kunjungan Komisi IV DPR RI ini merupakan bagian dari agenda pengawasan pemerintah terhadap distribusi dan ketersediaan pangan nasional, serta untuk memastikan bahwa kualitas pangan yang diterima masyarakat memenuhi standar kelayakan konsumsi.

Post a Comment

Previous Post Next Post