Dunia Pendidikan di Pesibar Kembali Jadi Sorotan, Oknum Guru Kembali Bikin Ulah

 

Ilustrasi (istmw)


Pesisir Barat - Belum lama viral aksi 'nyleneh' oknum guru SDN 91 Krui Pesisir Barat yang perintah paksa murid pungut kuaci pakai mulut, masyarakat Pesisir Barat kembali dibuat resah dengan adanya kasus penganiayaan siswa SMP 12 Krui yang terletak di Pekon Tanjung Jati Kecamatan Pesisir Selatan baru-baru ini.

Korban kali ini dianiaya oknum guru SMP 12 Krui hingga mengalami memar-memar di bagian tubuh. Korban yaitu R (12) asal Pekon Biha, Pesisir Selatan yang duduk dibangku kelas 8 SMP 12 Krui mengalami gangguan psikologis karena trauma akibat perlakuan KF yang menganiaya korban pada hari Kamis (29/02).

Menurut pengakuan ayah korban Sudirman, R saat ini mengalami gangguan psikologis berat sehingga membuatnya tidak mau kembali sekolah dan memilih menyendiri dengan mengurung diri dikamar.

"Awal mulanya pristiwa penganiayaan ini terjadi sekitar pukul 11:00 WIB pada hari Kamis (29/02). Ketika anak saya sedang makan cemilan, oknum guru ini lalu lewat didepan korban, pada saat itu R bersiul, namun KF malah langsung menganiaya korban hingga menyebabkan tubuh korban memar-memar," papar Sudriman.

Tak terima anaknya dianiaya, Sudirman lalu melakukan visum dan melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian. 

Atas kejadian tersebut Sudirman berharap agar pihak terkait memberikan sanksi berat kepada oknum guru tersebut sehingga memberikan efek jera.

Sudirman juga meminta agar Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) mendampingi proses hukum atas peristiwa yang dialami anaknya. Ia juga berharap DP3AKB memberikan pendampingan khusus kepada anaknya untuk memulihkan kondisi psikologis nya yg terganggu.

"Saya berharap betul kepada Dinas P3AKB dapat mendampingi anak saya agar mau kembali sekolah, karena hingga saat ini R tidak mau kembali sekolah karena sangat trauma dengan penganiayaan yang diterimanya oleh oknum guru tersebut," kata Sudirman.

Mendengar informasi tersebut Kepala Dinas P3AKB dr Budi Wiyono, M.H mengaku langsung menerjunkan tim PPA pada Jumat (01/03) sore kerumah korban untuk melakukan penelusuran dan identifikasi peristiwa serta pendampingan kepada korban.

"Kita telah menerjunkan tim untuk identifikasi, selanjutnya kita akan lihat seperti apa kronologi dan kondisi korban saat ini, jika memang benar nantinya kita lakukan pendampingan khusus untuk korban, baik sisi psikologis maupun hukum dan sosial nya," ujar Budi.

Budi juga menghimbau kepada seluruh tenaga pendidik khususnya di Kabupaten Pesisir Barat, untuk lebih bijaksana dalam menerapkan sistem pendidikan dan pelaksanaan kurikulum pendidikan, serta penerapan pengajaran etika moral disiplin anak.

"Niat baik, tujuan baik, ketika tidak diimbangi dengan cara yang baik, cara yang benar, maka akan berakibat kerugian bagi semuanya bahkan bisa berakibat permasalahan hukum pidana maupun perdata," tukas Budi mengingatkan.

Dia berharap agar peristiwa-peristiwa kekerasan terhadap anak di Pesisir Barat tidak lagi terjadi. 

Atas kejadian-kejadian tersebut menurut Budi lingkungan sekolah di Kabupaten Pesisir Barat belum sepenuhnya menerapkan sekolah ramah anak yang seharusnya wajib diterapkan di semua ranah pendidikan.

Sedangkan Dinas Pendidikan Kabupaten Pesisir Barat hingga Jumat sore belum memberikan tanggapan atas peristiwa ini. (Andrean/Wawe) 

Post a Comment

Previous Post Next Post