Tradisi Ziarah Untuk Harmoni di Mesuji Lampung

Ratusan masyarakat Adat Marga Buay Mencurung melakukan ritual ziarah kuburan sebelum perayaan Idul Adha 1443 H di Desa Talang Batu, Mesuji Timur, Provinsi Lampung kemarin (8/7).



Makam nenek moyang masyarakat adat yang di kunjungi atasnama Marmah Binti Sebiru, Makam Usman Binti Abdulan, dan Idris Binti Muhammad Akib. Prosesi doa bersama dipimpin Ustad Maulana asal Bandar Lampung.

Lokasi makam nenek moyang masyarakat adata berada di lokasi perkebunan sawit PT Sinar Indah Perkasa (SIP), karena itu dalam prosesi berdoa bersama menghadirkan berbagai pihak seperti Sinung Karto, pengurus nasional Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Basuki dan Abu Hasan dari Alinsi Petani Lampung serta perwakilan perusahaan atasnama Ramadhan, selaku pengawas lapangan perkebunan sawit PT SIP. Hal itu dilakukan untuk antisipasi konflik antara Pihak masyarakat dengan perusahaan.

Sebagaimana sebelumnya, Masyarakat adat Marga Buay Mencurung mengadukan perusahaan sawit PT SIP di Kantor Staf Presiden dan Kementerian BPN ATR RI. Masyarakat adat menuntut pengembalian lahan adat yang dikuasai perusahaan seluas 5.000 hektar sejak tahun 1990an.

Prosesi ziarah kuburan dalam masyarakat Lampung biasa dinamakan tradisi ngejalang. Tradisi yang biasa dilakukan ketika ingin menyambut hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Menurut Henri Chambert Loire, Peneliti asal Prancis yang banyak melihat budaya Indonesia, tradisi ziarah kuburan sudah berlangsung secara turun temurun dalam masyarakat, jauh sebelum Islam masuk ke nusantara.

Namun jika melihat prosesi ziarah kuburan sudah berlangsung sejak lama di tanah suci Mekkah. Setiap warga yang berkunjung biasanya diwajibkan ke Madinah dan berkunjung ke makam Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya sejak dahulu.

Karena itu prosesi ziarah kuburan dapat diklasifikasi dua jenis yakni pertama, ziarah kuburan nabi dan sahabat serta para pemimpin yang menebar kebaikan untuk kehidupan umat manusia. Kedua, ziarah kuburan kerabat dan nenek monyang yang sedarah seperti yang dilakukan Masyarakat Adat Buay Mencurung.

Menurut Clifford Geertz melihat ziarah kuburan masyarakat bukan hanya berfungsi mengingatkan kembali akan tuhan, akan tetapi sebagai penghubung atau jembatan individu manusia terhadap sesuatu disana (tuhan).

Menurut Agro Twikromo, Antropolog Universitas Atmajaya, yang diliput mediaindonesia.com mengungkapkan, Momen ziarah menjelang lebaran merupakan sebuah media untuk mengelola konflik menjadi nol dan media menuju titik harmoni.

Saidi, Ketua Koperasi Masyarakat Adat Marga Buay Mencurung berharap, dengan adanya berbagai pihak yang hadir dalam ziarah kuburan nenek moyang masyarakat Buay Mencurung dapat dijadikan momen untuk meredam konflik menjadikan nol antara masyarakat dengan perusahaan sawit kedepan.

Konflik agraria di Mesuji Lampung dikenal sebagai daerah ekstrem ketika terjadi konflik bahkan melahirkan korban jiwa yang tak terhitung sejak tahun 1990an sampai sekarang. Penyelesaian konflik agraria Adat Buay Mencurung sebagai langkah awal untuk menyelesaikan konflik agraria yang berkepanjangan di Mesuji Lampung.

Post a Comment

Previous Post Next Post