400 Hari Pandemi, 100 Hari Vaksinasi



 

Opini, UNDERCOVER - Hari ini tanggal 22 April 2021 sudah 400 hari COVID-19 menjadi pandemi di Lampung dan sehari lagi vaksinasi di Lampung juga sudah berlangsung selama 100 hari. Tulisan ini ingin memberikan informasi kepada pembaca tentang perkembangan terkini terkait kinerja pemerintah daerah di Lampung dalam tugas pengendalian pandemi dan pemberian vaksinasi.

 

Pada tulisan terakhir saya tentang pandemi sebulan yang lalu, peringatan dari Ketua Satgas Nasional COVID-19 tentang tingginya Angka Kematian selama ini yang hampir dua kali lipat rata-rata nasional dan himbauan Wakil Presiden untuk percepatan vaksinasi di Lampung yang masih berada di bawah rata-rata nasional sudah pernah saya sampaikan kepada pembaca.

 

Lampung memang luar biasa, khususnya Pemerintah Provinsi baik Dinas Kesehatan, Dinas Informasi, Komunikasi dan Statistik, maupun DPRD dan KIP (Komisi Informasi Publik) sebagai institusi yang diamanatkan konstitusi menjadi penjaga kepentingan publik terkait hak mendapatkan informasi yang jelas, transparan dan benar.

 

Sejak 14 Maret 2021, dua website milik Pemerintah Provinsi Lampung yang selama hampir satu tahun menjadi rujukan publik jika ingin melakukan up date data terkait pandemi COVID-19 di Lampung bukannya berkembang menjadi semakin informatif malah membeku dan tidak pernah diperbarui lagi data yang ditampilkan.

 

Saya sudah bertanya langsung ke Kadis Kesehatan Pemprov tentang kondisi dua website milik Pemprov itu, https://covid19.lampungprov.go.id dan  https://dinkes.lampungprov.go.id/covid19/ jawabannya sungguh luar biasa. Beliau sarankan saya baca di https://www.instagram.com/dinkeslampung/?hl=id saja jika ingin mengetahui perkembangan pandemi. Sementara soal dua website yang membeku beliau dengan entengnya hanya menjawab itu miliknya Pemda, seperti sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan tupoksi dinas yang ia pimpin.

 

Setelah sebulan lebih dua website resmi Pemprov Itu membeku tanpa update data, hebatnya lagi Dinas Kominfotik, bahkan DPRD dan KIP Provinsi Lampung juga terlihat acuh dan tidak peduli. Mungkin bagi mereka selain urusan penganggaran dan pencitraan tidak ada yang penting dari urusan pemenuhan hak publik untuk mendapat informasi yang jelas dan transparan. Sementara PWI sendiri sebagai induk organisasi pewarta yang menyajikan informasi kepada publik sikapnya juga relatif sama, diam saja seperti tidak ada apa-apa. Mungkin karena selama ini memang sudah lebih senang mengambil peran hanya sekedar seakan menjadi kehumasan non dinas bagi Pemprov sehingga agak lupa dengan fungsi social control dan social support yang melekat dalam kerja jurnalistik.

 

Sikap tidak peduli yang menyebalkan itu biar saja menjadi catatan buruk bagi mereka sendiri, kita do’akan saja hikmah Ramadhan bisa menggerakkan qolbu mereka untuk lebih bisa bersikap amanah dan profesional.

 

Angka Kematian

 

Sekarang mari kita lihat data tentang angka kematian yang diingatkan oleh Jenderal Doni Monardo sebulan yang lalu per tanggal 19 Maret 2021, jumlah pasien meninggal dunia sebanyak 716 orang dari 13.465 orang penderita, persentase angka kematiannya sebesar 5,32% dan menempati urutan kedua secara nasional. Angka itu hampir dua kali lipat rata-rata nasional yang hanya sebesar 2,7% saja.

 

Setelah sebulan sejak warning Jenderal Doni itu, bagaimana keadaannya sekarang? Per tanggal 20 April 2021, jumlah pasien meninggal dunia sebanyak 831 orang dari 15.186 orang penderita, persentase angka kematiannya naik menjadi sebesar 5,47% dan tetap menempati urutan kedua secara nasional. Selama sebulan setelah Ketua Satgas Nasional memberi peringatan, persentase angka kematian akibat pandemi COVID-19 di Lampung bukannya membaik tetapi justru memburuk naik sebesar 0,15%.

 

Vaksinasi

 

Sehari setelah peringatan tentang tingginya angka kematian di Lampung disampaikan oleh Jenderal Doni, keesokannya Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin menyampaikan himbauan agar vaksinasi di Lampung dipercepat. Per tanggal 21 Maret 2021, untuk Tahap 1 dan 2 (tenaga kesehatan, lanjut usia, pelayan publik) vaksinasi dosis 1 baru mencapai angka 8,85% dan vaksinasi dosis 2 baru berada di angka 3,73%. Di bawah rata-rata nasional yang saat itu sudah sebesar 13,71% untuk vaksinasi dosis 1 dan 5,71% untuk vaksinasi dosis 2.

 

Setelah sebulan dari himbauan Wapres itu mari kita lihat perkembangannya. Per tanggal 20 April 2021, vaksinasi di Lampung untuk dosis 1 baru mencapai besaran 15,1% sedangkan dosis 2 nya baru sebesar 9,42%. Semakin jauh berada di bawah rata-rata nasional yang sudah mencapai angka 27,93% untuk dosis 1 dan 15,67% untuk dosis 2.

 

Sama seperti pada angka kematian, angka vaksinasi di Lampung selama satu bulan terakhir tampaknya justru semakin memburuk kinerjanya dibandingkan dengan capaian rata-rata nasional. Peringatan Ketua Satgas Nasional dan himbauan Wakil Presiden seperti tidak berpengaruh sedikitpun terhadap perbaikan kinerja Pemerintah Provinsi Lampung dalam penanganan pandemi.

 

Laju Penyebaran dan Jumlah Test PCR

 

Saya sedang malas menghitung secara persis laju pertambahan penderita terkonfirmasi positif selama sebulan terakhir karena dari kenaikan persentase angka kematian sebesar 0,15% itu saja sudah menggambarkan memburuknya kerja 3T (Testing, Tracing, Treatment) di Lampung.

 

Kinerja buruk itu semakin terkonfirmasi manakala kita berusaha mencari data resmi jumlah spesimen dan orang yang dites PCR di Lampung. Tidak ada data perkembangan harian dari kerja Testing dan Tracing yang ditampilkan oleh Satgas Provinsi maupun di instagram dinas kesehatan, apalagi di dua website yang sudah sebulan mati suri. Tidak seinformatif penyajian data yang dilakukan satgas nasional dan pemerintah provinsi lainnya. Sekedar perbandingan informasi per tanggal 21 April 2021, Jakarta sudah melakukan PCR Test sebanyak 342.448 tes per sejuta penduduk sementara secara nasional sudah sebanyak 31.402 tes per sejuta penduduk.

 

Saya hanya bisa menemukan data tentang jumlah PCR Test di Lampung dari link berita tanggal 31 Maret 2021, menurut keterangan Kadis Kesehatan Provinsi, baru dilakukan PCR Test sebanyak 79.441 tes selama setahun lebih pandemi berlangsung. Jika angka itu dibagi dengan jumlah penduduk Lampung maka angkanya menjadi sangat jauh di bawah capaian rata-rata nasional karena hanya sebesar 8.817 tes per sejuta penduduk. Baru seperempatnya rata-rata nasional dan seperempat puluhnya capaian DKI Jakarta.

 

Semua angka yang saya sajikan kepada pembaca dalam tulisan ini sepertinya juga akan berakhir sama seperti tulisan-tulisan sebelumnya, hanya sedikit sekali yang terjaga kesadarannya dan kemudian menyatakan sikap. Sementara sebagian besar termasuk partai politik, kampus dan media lebih memilih pura-pura tidak tahu bahkan sebagian tetap saja memberikan puji-pujian apalagi sudah mendekati hari lebaran.

 

Padahal Ramadhan sepertinya bukan cuma meminta kita untuk bergegas melakukan perbuatan ma’ruf saja, Ramadhan sejatinya juga ingin melihat kita semakin bersemangat mencegah kemungkaran sekecil apapun potensinya, sekiranya tidak bisa menggunakan tangan (kekuasaan) mungkin bisa melalui lisan (dan tulisan). Jika di Ramadhan sekalipun kita masih juga memilih hanya bersikap di dalam hati dan menjadi bagian dari golongan selemah-lemahnya iman, bagaimana nanti setelah Ramadhan? Adakah kategorisasi yang lebih lemah lagi? Semoga kita tidak termasuk dalam golongan itu. Naudzubillahi min zaalik. 



Nizwar Affandi

Post a Comment

Previous Post Next Post